Thursday, 23 May 2013

KEKUDUSAN



ANGGOTA KELUARGA ALLAH
(Efesus 2 : 19- 22)
Oleh : Aprys Radja


Kita sedang membahas seri “Kekudusan” dan dalam 6 sesi pertama, kita sedang berbicara mengenai tujuan dari panggilan Allah. Nah, hari ini kita akan melihat mengenai tujuan panggilan Allah kepada kita sebagai umat-Nya, yaitu  untuk menjadi “anggota keluarga Allah”.

“Orang Kudus” bukanlah gelar namun kenyataan hidup.
Namun sebelum saya membahas mengenai hal ini, biar kita melihat sedikit mengenai apa itu panggilan Allah kepada kita. Jika saudara membuka Alkitab saudara dan mencermatinya dengan baik mengenai kata “kudus” maka saudara tidak akan melewatkan satu ayat yang berharga ini, yaitu Roma 1 : 7. Dikatakan bahwa kita dipanggil dan dijadikan orang-orang kudus. Perhatikanlah hal ini. Ketika kita bicara mengenai menjadi orang kudus, maka kita tidak sedang berbicara mengenai gelar di sini, seperti juga perkataan “orang Kristen”. Ketika kita berbicara mengenai menjadi orang kudus, kita sedang berbicara mengenai kenyataan hidup disini. Itulah yang menjadikan mereka layak disebut demikian oleh Paulus. Dikatakan orang kudus karena hidup mereka itu kudus. Jika kita meresponi firman Tuhan dengan seluruh hidup kita dan kita ditransformasikan oleh Allah maka kita akan menjadi orang kudus. Meresponi firman Tuhan dengan seluruh hidup bermakna saudara siap untuk melepaskan apapun yang menghalangi saudara dari karya Transformasi Allah tersebut. Saudara harus memahami hal ini dengan baik. Inilah panggilan kita yaitu untuk menjadi orang kudusnya TUHAN.

Kita dipanggil dengan panggilan kudus untuk menjadi orang kudus kepunyaan TUHAN!.
Satu ayat lain yang sangat penting berkenaan dengan tema besar kita ini adalah 2 Timotius 1 : 9. Apa yang dikatakan di sana? Bahwa Allah, yang menyelamatkan kita, memanggil kita dengan panggilan kudus. Mengapa disebut panggilan kudus?. Dapatkah saudara memikirkannya?. Hal itu dikarenakan ia merupakan panggilan untuk kita menjadi kudus. Ini adalah karya Allah dan Ia akan melaksanakannya jika saudara benar-benar meresponi panggilan ini dan serius untuk hidup dalam kekudusan.

Saudaraku, saat ini di gereja, banyak orang yang tidak berani menyebut dirinya orang kudus, kalaupun ada, mereka dapat mengatakan demikian karena mereka belum lagi mengerti maksud dan konsekuensi dari perkataan itu. Mengapa tidak ada yang berani? Karena dari realitas hidup mereka, mereka masih lagi berbuat dosa, masih melawan kehendak Allah. Tapi tahukah saudara bahwa panggilan keselamatan Allah adalah untuk menjadi orang kudus kepunyaan-Nya? Jangan bicara mengenai  keselamatan jika saudara tidak memandang serius kekudusan. Kekudusan itu bukanlah sesuatu yang kita hasilkan. Ini adalah karya Allah, suatu kasih karunia yang Allah tunjukkan di dalam Kristus. Namun dipihak kita perlu kehendak yang kuat dan sungguh-sungguh  akan hal ini, dan dengan demikian, Allah yang melihat hati kita, menghargainya dan akan mentransformasikan kita.

Mereka yang mengasihi Allah adalah mereka yang hidup dengan serius dalam kekudusan.
Untuk menghindarkan kita dari pikiran yang keliru selama ini, yang ada pada kebanyakan kita, marilah kita melihat sedikit perkataan Paulus di Roma 8 : 28. Paulus berkata : “kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah”. Kebanyakkan orang Kristen suka mengutip ayat ini dan mungkin juga kita, mengutipnya dengan begitu saja, untuk menghibur diri kita ataupun orang lain ketika menghadapi kesulitan. Namun perhatikanlah dengan seksama ayat ini. Ia sedang bicara mengenai kehendak dan rencana Allah. Perhatikanlah ayat sebelumnya yaitu ayat 27. Dua kata penting dalam ayat ini adalah orang kudus dan kehendak Allah. Ada orang kudus dan ada kehendak Allah. Jadi, Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang-orang kudus-Nya, dan orang-orang kudus ini disebut juga “mereka yang mengasihi-Nya”. Mengertikah saudara akan hal ini?. Dengan demikian, jika saya dan saudara tidak serius hidup dalam kekudusan, dapatkah kita disebut sebagai orang yang mengasihi-Nya? Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang mengasihi-Nya?. Siapakah mereka? Orang-orang kudus-Nya, yang hidup dalam kekudusan.

Anggota keluarga Allah adalah “orang-orang kudus”.
Hal ini semakin jelas bagi kita ketika kita berbicara mengenai topik hari ini, yaitu mengenai menjadi “anggota keluarga Allah”. Nats acuan kita yaitu Efesus 2 : 19-22. Ini adalah ayat yang kaya dan saya rasa saya tidak dapat untuk menyampaikan semua kekayaannya pada hari ini sekaligus. Namun biar kita memandang pada apa yang perlu untuk kita pahami dengan baik saat ini. Dikatakan pada ayat 19 : “kawan sewarga dari orang kudus dan anggota-anggota dari keluarga Allah”. 2 hal ini disebutkan bersamaan bukan hanya untuk menunjukkan bahwa keduanya sejajar dalam pengertian namun bahwa 2 hal ini adalah satu kesatuan.

Jadi, siapakah anggota keluarga Allah? “orang-orang kudus-Nya”.
Ini adalah suatu istilah lain untuk menunjukkan bahwa kita adalah kepunyaan Allah, kesayangan-Nya ataupun bagian dari kerajaan Allah itu sendiri. Ini adalah sesuatu hal yang penting.

Ketika memandang kepada perkataan ini : “anggota keluarga Allah” maka saudara akan teringat akan satu istilah yang begitu sangat menonjol di dalam Alkitab berhubungan dengan hal ini, mulai dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru. Hal itu adalah kita sebagai “anak-anak Allah” dan Allah sebagai Bapa kita. Ini adalah gelar yang dikenakan bagi Israel, Raja Israel, Para Nabi, Daud bahkanKristus dan juga kita. Dan dalam Perjanjian Baru dikatakan Kristus sebagai yang sulung diantara banyak saudara. (Roma 8 : 29).

Sikap dan cara hidup kita menunjukkan siapakah Bapa kita!.
Nah, ada satu hal yang sangat serius, yang Yesus sampaikan mengenai hal ini dalam ajaran-Nya dan juga dalam teguran-Nya kepada orang Yahudi. Sebagai contohnya yaitu Matius 5 : 44-45, 48 ataupun seperti Lukas 6 : 36. Apa yang Yesus ingin sampaikan adalah demikian :  “jika Allah adalah Bapa kita, jika kita adalah anak-anak-Nya, jika kita adalah anggota Kelurga Allah maka itu akan tertunjuk dalam sikap dan cara hidup kita” atau dengan kata lain : “sikap dan cara hidup kita akan menunjukkan hal itu”. Oleh karenanya, Yesus menegur dengan keras orang Yahudi akan hal ini di dalam Yohanes 8 : 41-44. Pengakuan apapun yang keluar dari mulut kita, title atau gelar apapun yang disematkan kepada kita, itu tidak ada artinya jika tanpa kenyaatan akan hal itu dalam hidup kita.

Biar perkataan ini bergema di dalam hati kita : “kuduslah kamu sebab Aku Kudus”.
Allah menghendaki hal ini karena demikianlah IA.

Melakukan kecemaran berarti menolak Allah!.
Yesus juga pernah mengatakan : siapakah ibu-Ku, siapakah saudara-saudara-Ku? Atau biar kita ganti demikian : “siapakah anggota keluarga Allah?” Merekalah yang melakukan kehendak Allah. Dan, apakah kehendak Allah itu?. 1 Tesalonika 4 : 3 mengatakan “pengudusanmu”. Dan di ayat 7 sekali lagi Paulus katakan : Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar melainkan apa yang kudus. Di ayatnya yang ke-8, Paulus sekali lagi mengatakan : jika ada yang menolak hal ini maka dia sedang menolak Allah. Dengan melakukan apa yang cemar tahukah saudara bahwa saudara sedang menolak Allah?


Dosa dapat menghancurkan bait Allah, Keluarga Allah!.
Masih banyak hal yang dapat kita lihat dari perikop kita ini namun biar saya selesai disini!
Perhatikan juga Efesus 2 tadi dimana diberikan gambar mengenai bangunan yang tersusun rapi menjadi bait Allah dengan para rasul dan para nabi sabagai dasarnya dan Yesus sebagai batu penjurunya. Namun saya hanya ingin membahas sedikit mengenai hal ini yaitu bahwa ia memberikan satu gambaran kesatuan dalam keluarga Allah. Bukan hanya jangan menghancurkan Bait Allah namun juga jangan menghancurkan keluarga Allah, dengan  menceraiberaikannya, dengan perpecahan di dalamnya. Perpecahan dalam keluarga, apapun itu namanya, yang ada hanyalah kesombongan dan pertengkaran. Dosa harus disingkirkan dan yang berdosa harus di disiplin. Gereja tidak hancur karena disiplin, keluarga Allah tidak akan hancur karenanya namun ia akan benar-benar hancur jika dosa tidak ditangani. Dosalah yang menghancurkan gereja atau kelurga Allah. Saudara tahu bagaimana sebuah keluarga hancur? Jika tak ada kasih di dalamnya, kasih yang mendalam. Sekalipun kelihatannya kasih namun tanpa kasih yang tulus dan utuh, semuanya hanya menjadi kepura-puraan dan itu terbukti dengan tak adanya kuasa di dalam gereja itu.

Lemahnya kesatuan dalam gereja menunjukkan betapa lemahnya kualitas-kualitas rohani di dalam gereja itu.
Sadarkah saudara bahwa kualitas-kualitas rohani menjadi mungkin di dalam kita melalui hadirat Allah yang diam ditengah-tengah kita?. Dan di dalam Alkitab, hadirat Allah secara khusus dikaitkan dengan kesatuan. Maksud saya, jika kesatuan di dalam gereja itu lemah maka sebenarnya itu juga menunjukkan betapa lemahnya kualitas-kualitas rohani di dalam gereja itu termasuk juga kekudusan. Biar sekali ini kita memahaminya dengan baik.

Dan yang terakhir, biar kita jelas dengan satu hal ini : tidak ada yang namanya sekali anak maka tetap anak atau sekali selamat maka tetap selamat!. Saudara mungkin adalah anak namun anak yang dibuang keluar dari dalam kerajaan-Nya pada akhirnya jika saudara tidak tetap dalam kekudusan-Nya. Ingatlah akan Israel. Mereka adalah anak-anak Allah namun mereka gagal dan sebagai konsekuensinya, mereka dibinasakan. Biarlah ini menjadikan kita senantiasa gentar  dihadapan Allah. Amin

Thursday, 7 March 2013

SALING MEMBERI SALAM



SALING MEMBERI SALAM
(Cium Kudus)

Oleh Aprys Radja

Sebelum membahas tema untuk kita hari ini, saya ingin menceritakan sebuah cerita lama kepada saudara dan berharap saudara dapat menangkap apa yang saya ingin sampaikan melalui cerita ini. Kisah ini berjudul : “telinga untuk jangkrik”.
Kisah ini menceritakan mengenai seorang anak Indian yang berjalan bersama temannya di pusat kota New York, AS. Anak Indian ini tiba-tiba berkata kepada temannya bahwa ia mendengar seekor jangkrik. Temannya berkata : ah, kamu ini gila”. Namun si anak Indian ini bersikeras bahwa ia mendengar seekor jangkrik. Temannya berkata : ini adalah siang hari bolong dan ada begitu banyak orang berjalan dimana-mana dengan segala aktivitasnya, mobil-mobil membunyikan klakson, di tambah lagi dengan bunyi-bunyian dari pusat kota. Namun anak Indian ini tidak sependapat. Ia kemudian mendengarkan dengan sungguh-sungguh dan berjalan ke pojok menyebrangi jalan dan kemudian melihat ke sekelilingnya. Akhirnya, dipojokan yang lain ia menemukan semak-semak disebuah wadah semen yang besar. Ia menggali di bawah dedaunan dan menemukan seekor jangkrik. Temannya jelas-jelas tercengang. Namun si anak Indian berkata : telingaku tidak berbeda dengan telinga mu. Ini hanya bergantung kepada apa yang kamu dengarkan. Mari ku tunjukkan kepadamu.
Si anak Indian kemudian merogoh sakunya dan mengelurkan segenggam uang logam dan menjatuhkannya ke beton. Dan apa yang terjadi? Semua kepala di blok itu seketika berpaling. Anak Indian ini kemudian bertanya kepada temannya : kamu mengerti apa yang ku maksudkan? seraya ia mulai mengambil koin-koin itu. “Semuanya tergantung pada apa yang kamu dengarkan”.

Kelangsungan Hidup Rohani :
“bergantung kepada kebiasaan kita untuk mendengar atau memusatkan perhatian”!
Saya ingin bertanya : mengertikah saudara apa yang ingin disampaikan melalui cerita ini? Banyak orang saat ini yang mata dan telinganya begitu terpesonakan oleh dunia ini. Mereka tidak lagi peka terhadap hal-hal rohani. Kepekaan rohani mereka makin tumpul. Mengapa? Karena mereka sudah terlalu membiasakan diri mendengarkan apa yang menjadi kemauan dunia, apa yang di inginkan oleh daging mereka, dari keeegoisan mereka. Mengapa yang lain dapat berfungsi dengan baik secara rohani dan memiliki kepekaan sedangkan yang lainnya tidak? Bukan berarti kita berbeda, hanya saja itu bergantung kepada apa yang kita dengarkan. Ini bergantung kepada bagaimana kita setiap hari belajar untuk mendegarkan firman-Nya dan menghidupinya.

Ada begitu banyak orang saat ini yang nampaknya sangat antusias terhadap hal-hal di dunia ini. Karena itulah yang ingin ia perhatikan. Karena itulah yang ingin ia dengarkan. Mengapa? Karena itulah yang di inginkan oleh dagingnya, oleh sifatnya yang egois. Bagaimana dengan kita? Apakah saudara masih peka terhadap firman-Nya? Apakah firman-Nya masih mengusik kita? Ataukah kita sudah terlalu lama mengabaikan hati nurani kita, mengabaikan firman-Nya, mendengar namun tidak melakukannya? Itulah alasannya mengapa kita bukannya makin melihat dengan jelas dan mendegar dengan semakin tajam sehingga bisa memilah dan tidak ikut terseret dan terjebak dalam penipuan oleh dunia ini. Karena kita telah membiasakan diri untuk mendengar nasehat dari dunia ini, mendengar dunia ini.

Hari ini kita akan melihat mengenai saling memberi salam!
Adakah suatu intesitas dan kepentingan rohani dari hal ini di mata saudara? Kita sering mengatakan hal ini, bukan?. Salam ya buat ini dan itu. Atau juga ketika kita mengatakan syalom atau salam damai sejahtera. Ini juga adalah sebuah salam. Apa yang ada di benak kita ketika kita menyampaikan salam kepada orang lain? Dalam Roma 16 : 16 dikatakan : “bersalam-salamlah kamu dengan cium kudus”. Ini sebenarnya bukanlah ungkapan rasul Paulus saja karena rasul Petruspun mengatakan hal yang sama. Petrus berkata : berilah salam seorang kepada yang lain dengan cium kudus (1 Petrus 5 : 14). Ada hal yang menarik, ke dua rasul ini tidak hanya mengatakan bersalaman dengan ciuman tapi ciuman kudus.

Seperti yang saudara pernah dengar bahwa pernah ada suatu sekte Kristen dulunya (saya tidak tahu, apakah masih ada hingga sekarang) dimana mereka bersalaman dengan saling berciuman bahkan dengan lawan jenis (termasuk isteri sesama) dengan cara yang tidak wajar. Namun mereka menggunakan istilah yang digunakan Paulus dan Petrus disini : “cium kudus”. Dengan menggunakan ayat alkitab untuk mendukung perbuatan mereka itu. Saya melihat Kekristenan telah dicemari oleh perbuatan keji semacam ini ; menggunakan ayat-ayat Alkitab untuk membenarkan tingkah laku mereka yang sebenarnya dikuasai nafsu namun menyatakannya sebagai kebenaran.

Memberi salam dengan cium kudus :
“salah satu bentuk penyataan kasih yang mesra di antara saudara”.
Mari kita pahami dengan baik maksud Paulus disini. Sebenarnya, memberi salam dengan ciuman, seperti yang kita lihat dalam Alkitab merupakan satu kebiasaan yang berlaku di kalangan orang Kristen sejak lama. Ini dapat nyata terlihat dalam tulisan para rasul teristimewahnya rasul Paulus. Ini bukanlah sesuatu hal yang baru sebenarnya bagi mereka yang merupakan Kristen Yahudi. Hal ini dikarenakan ini merupakan suatu hal yang lazim di kalangan Yahudi. Biasanya bukan hanya salam dalam bentuk verbal namun salam itu disetai dengan sebuah ciuman ataupun pelukan, secara istimewah antara sesama jenis.  Biasanya ciuman itu pada bagian dahi, pipi ataupun tangan. Ada kalanya kita melihat dalam kasus tertentu terjadi di antara lawan jenis, namun itu hanya terjadi di antara orang tua dengan anak sebagai lambang penghormatan dan kasih sayang. Kita juga menemukan suatu kasus dimana ketika Yesus datang ke rumah seorang Farisi, dimana pada waktu itu datang seorang perempuan meminyaki kaki Yesus dan terus-menerus mencium kakinya. Ini merupakan suatu bentuk penghormatannya dan kasihnya kepada Yesus sebagai seorang Rabi atau guru. Ini bukan suatu ketentuan tapi ekspresi kasih yang tulus kepada seorang rabi.

Terdapat satu contoh di PL mengenai ciuman terhadap lawan jenis.
Ia muncul di dalam Amsal 7 : 13 – lalu dipegangnyalah orang teruna itu dan di ciumnya dengan muka tanpa malu. Saudara tahu apa konteksnya di sini? Ini tentang perempuan asusila. Dan apa kata Amsal : rumah perempuan itu adalah jalan ke dunia orang mati. Saya teringat akan Amsal 11 : 22 – seperti anting-anting emas di jungur babi, demikianlah perempuan cantik (bisa juga dengan pria tampan) yang tidak susila.

Jadi, kembali kepada salam dengan ciuman ini!
Ciuman di PL biasanya menyatakan hubungan kasih dan penghormatan kekeluargaan seperti Yakub mencium Ishak, ayahnya (Kej 27 : 26), ataupun menyatakan persahabatan dan kasih sayang seperti Daud dan Yonatan saling bercium-ciuman (1 samuel 20 : 41), ataupun kasih dan berkat seperti Samuel mencium saul ketika ia mengurapi Saul menjadi Raja atas Israel (1 samuel 10 : 1). Intinya, ini adalah suatu kebiasaan yang ada pada saat itu. Lebih dari itu, memberi salam dengan ciuman adalah suatu bentuk kasih yang mesra!

Jadi, mengapa ini tidak dilakukan di gereja kita?. Kayaknya selama ini kita belum melihat hal ini dilakukan. Mengapa kita tidak melakukannya dan menjadikannya suatu kebiasan?. Saya ingat ketika kami berpisah untuk melayani, kami semua dan para pemimpin kami saling berpelukan satu sama lain (sesama jenis) dan saling berjabat tangan dan memberi selamat (kepada lawan jenis). Ini juga adalah suatu ungkapan kasih. Kasih dapat di ungkapkan dengan berbagai cara dan ciuman hanya salah satunya, namun kasih itu haruslah kudus, jika ia dilakukan dengan mengabaikan kekudusan maka itu bukanlah kasih.

Memberi salam dengan cium kudus :
“Kasih itu bukan kasih jika ia mengabaikan kekudusan”.
Tapi hal apa yang dapat kita pelajari dengan melihat kepada perkataan “saling memberi salam dengan cium kudus”?
Yang pertama : Saling memberi salam adalah suatu bentuk saling mengasihi sebagai saudara dalam Tuhan. Namun penekananya adalah kasih itu bukanlah kasih jika ia mengabaikan kekudusan (bahkan sesama jenispun dapat terjadi hubungan yang tidak wajar; perhatikanlah-dunia ini semakin aneh). Bukan berarti kita menyingkirkan saudara kita ketika ia berdosa namun dengan kasih, ia harus dibawa kembali kepada Allah dan hidup kudus.

Memberi salam dengan cium kudus :
“Pernyataan kasih mesra dari pribadi yang sejatinya mengasihi saudaranya yang lain”.
Hal kedua yang saya mau sampaikan berhubungan dengan hal ini : Saudara tahu, jika saudara mengamati perkataan cium ini ya, ada satu kejadian dimana hal ini menjadi sesuatu yang benar-benar menyedihkan. Hal itu ada dalam kasus Yudas mengkhinati Yesus. Saudara tahu bagaimana ia mengkhianati Yesus? Dengan sebuah salam dan ciuman. Ini benar-benar menyedihkan. Kita dapat saja melakukan sesuatu yang secara eksternal kelihatan begitu baik dan rohani tanpa benar-benar memaksudkannya, bahkan bisa dalam semangat yang bertolak belakang dengannya, yaitu ‘pengkhianatan.

Dengan membandingkan kasus-kasus ini, maka saudara dapat melihat bahwa dalam hal saling memberi salam, hal itu adalah ungkapan kasih mesra, digerakan oleh kasih. Tapi penekanannya adalah bahwa kasih itu sangatlah berkaitan dengan jati diri saudara. Apa maksud saya? Dapatkah saudara melakukan suatu perbuatan baik tanpa saudara yang di dalamnya baik? dapatkah saudara melakukan suatu tindakan kasih tanpa kasih di dalamnya? Saya katakan dalam pengertian tertentu : “bisa”. Ada banyak perbuatan baik dan kasih semacam ini. Kita sering begitu menekankan mengenai doing (perbuatan) dan bukannya being (jati diri). Inilah persoalan besar di dalam kekristenan. Bukannya perbuatan itu tidak penting, ia sangat penting. Tapi perhatikanlah hal ini! Dapatkah seseorang yang hatinya tidak seutuhnya bagi Tuhan melakukan suatu pelayanan? ‘bisa”, apapun itu yang disebut pelayanan di gereja saat ini. Mereka dapat melakukan sesuatu namun itu bukanlah mereka, dan itulah penipuan. Itulah kemunafikan.

Saudara ingat akan teguran Yesus kepada Ahli Taurat dan orang Farisi?
Yesus katakan mereka melakukan semuanya hanya supaya di lihat orang, mereka memakai tali sembayang yang lebar dan jumbai yang panjang untuk memperoleh hormat (salam) di jalan atau pasar. Yesus katakan : Bagaimana mungkin kalian membersihkan cawan dan pinggan sebelah luarnya tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan?. Tuhan katakan bersihkan dulu sebelah dalamnya maka sebelah luarnya pun akan bersih. Aneh, apakah ada di antara saudara yang jika mencuci gelas bagian luarnya saja dan dalamnya tidak? Namun nampaknya, dalam hidup rohani, inilah yang kita lakukan. Saudara dapat memberikan salam kepada orang lain, tetapi apakah benar-benar saudara mengasihinya? Benarkah itu saudara? Benarkah saudara mengasihi mereka? Memiliki perhatian kepada mereka?

Yesus katakan : kamu seperti kuburan yang di labur putih, yang sebelah luarnya memang tampak bersih tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang-belulang dan pelbagai jenis kotoran. Kamu kelihatan hidup tapi di dalam kamu mati. Jadi, di luar kamu tampak benar dimata orang tetapi di dalamya penuh dengan kejahatan. Sekiranya saudara mementingkan hidup rohani saudara, maka perhatikanlah bagian dalam saudara, yang tidak kelihatan itu. Mintalah agar Allah membersihkan dan mengubahkan kita. Tapi di pihak kita, kita harus benar-benar mau atau bertekad untuk hal itu. Sebagai contoh di dalam Roma 16, ketika Paulus menyatakan salamnya kepada orang-orang yang dia sebutkan, hal itu di iringi dengan pernyataan Paulus tentang apa yang Paulus lihat dalam hidup mereka. Paulus sangat memperhatikan mereka, sebagai satu pribadi maupun sebagai satu jemaat.

Memberi salam ; “Kasih mesra sebagai suatu dorongan dalam iman”.
Yang ke tiga : Dalam menyatakan hal itu (karakter tiap-tiap orang), salam itu dimaksudkan untuk memberikan suatu dorongan. Hal itu dengan mengingatkan apa yang telah Tuhan kerjakan di dalam dan melalui mereka, seperti yang nampak dalam hidup mereka. Kita harus tahu bahwa keadan orang Kristen pada waktu tidaklah mudah. Jadi, salam ini adalah suatu pemberian semangat untuk terus maju dan melangkah bersama. Di dalam Roma 1 : 12, Paulus katakan dia ingin bertemu dengan jemaat di Roma agar masing-masing mereka turut terhibur oleh iman mereka bersama, baik oleh iman mereka maupun oleh iman Paulus. Salam itu juga adalah suatu doa. Syalom berarti damai sejahtera bagimu.

Memberi salam tidak hanya kepada saudara :
“Ciri kehidupan Kristen yang luar biasa, melebihi standart yang biasa”.
Yang terakhir :
Kita juga mengingat perkataan Tuhan, jikalau kita hanya memberi salam kepada saudara kita, apakah lebihnya dengan orang berdosa? (Matius 5 : 47). Konteksnya pada bagian itu, Ia sedang berbicara tentang mengasihi. Di sini Tuhan sedang mengajarkan kita untuk hidup secara luar biasa, melebihi standart yang biasa. Dengan kata lain, jika kita mengasihi saudara kita itu baik, namun lebih dari itu, orang yang memusuhi kita. Kalau di antara saudara saja sulit, bagaimana dapat hidup menurut hidup yang rohani, yang luar biasa, yang lebih dari yang biasa. Ada saja kita temui, terdapat masalah di antara saudara sehingga mereka tidak lagi memberikan salam satu dengan yang lain. Bagaimana kita dapat hdup secara lebih?. Amin

SALING MENGUTAMAKAN

SALING MENGUTAMAKAN
(Filipi 2 : 3)

Oleh : Aprys Radja

Kita akan meneruskan pembahasan kita mengenai seri besar kita selama ini. Dan hari ini, kita akan melihat mengenai satu lagi hal yang begitu penting, yang begitu sayang untuk dilewatkan dalam pembahasan kita, mengingat hal ini merupakan salah satu hal yang begitu penting dan sedemikian praktis untuk dipraktekkan di dalam gereja. Hal itu adalah mengenai “saling mengutamakan”.

Sebagaimana yang saudara ketahui bahwa belum lama ini, kami semua berada di daerah Jogja untuk sebuah pertemuan. Setibanya kami di Jogja, kami di hantarkan ke villa dimana kami akan menginap. Dalam perjalanan itu, kami memperoleh seorang driver yang baik, yang dengan semangatnya menceritakan kepada kami kronologis kejadian-kejadian yang belum lama ini terjadi di Jogja. Yang terbaru adalah mengenai meletusnya gunung merapi. Bagi orang ini, sebenarnya, sebelum hal ini terjadi, sudah ada tanda-tanda yang nyata, bahkan binatang-binatangpun merasakannya. Dan sesungguhnya, akibat yang ditimbulkan bagi manusia dapat diminimalkan dan korban yang ada dapat ditanggulangi dengan baik sekiranya masyarakat itu peka dan mau dengan segera melakukan sesuatu.

Ketika mendengar cerita orang ini, satu hal yang saya mengerti. Besarnya dampak dan korban yang ada adalah dikarenakan manusia tidak peka terhadap gejala alam dan tidak menghiraukannya sekalipun gejala tersebut begitu terlihat jelas. Hal ini dengan begitu baik menjelaskan apa yang juga terjadi di dalam hidup rohani kita. Apa yang saya maksudkan adalah bahwa keselamatan saudara dan juga gereja sangatlah bergantung kepada kepekaan saudara terhadap perkara-perkara rohani dan bagaimana saudara meresponinya. Apakah kita peka terhadap apa yang Tuhan sedang ingin sampaikan kepada kita dan juga terhadap kondisi rohani kita.

Dalam banyak kesempatan, memandang kepada bagaimana kondisi orang Kristen akhir-akhir ini, begitu banyaknya orang yang merasa jenuh dan hambar terhadap perkara-perkara rohani merupakan suatu keadaan yang sangat menakutkan. Firman Tuhan yang adalah air kehidupan, yang seharusnya menyegarkan menjadi terasa begitu biasa. Apa yang sebenarnya menjadi masalah dari semua hal ini? Salah satu alasan utamanya, yang tidak dapat kita pungkiri adalah ‘karena kita tidak hidup di dalamnya”, di dalam firman yang kita dengar. Kita mengetahuinya namun itu bukanlah kehidupan kita. Ia bukannya menjadi air yang mengalir keluar dari hidup kita dan menyegarkan orang lain namun malah menjadi air yang tergenang di dalam kita.

Begitu banyaknya orang Kristen yang tidak menyadari bahwa mereka saat ini telah berada di dalam perangkap si jahat. Jika hal-hal rohani telah menjadi sedemikian biasa bagi kita maka berhati-hatilah, kemungkinan besar kita telah jatuh dalam jeratnya. Segeralah bertindak. Jika perkataan seperti kasih, komitmen ataupun kualitas hidup terdengar biasa bagi saudara, maka berhati-hatilah.

Jika saudara tidak menghidupi dengan seutuhnya firman yang saudara dengar dan firman itu tidak hidup di dalam saudara maka berhati-hatilah! Saudara akan mendapati bahwa bukan hanya perkara-perkara rohani akan menjadi terasa biasa bagi saudara, namun hal itu juga akan berdampak kepada hubungan saudara dengan saudara yang lain di dalam tubuh ini. Hubungan itu akan menjadi terasa biasa dan hambar. Saya pastikan bahwa hal ini akan dengan segera terjadi.

Nah, berhubungan dengan hal ini, marilah kita melihat kepada topik kita pada hari ini dan bercermin kepada hal ini untuk melihat kondisi spiritual kita. Hal itu adalah mengenai “saling mengutamakan”. Paulus katakan, “sempurnakanlah sukacitaku dengan ini yaitu bahwa diantara jemaat : “yang satu menganggap yang lain lebih utama dari dirinya sendiri” atau “utamakanlah satu terhadap yang lain”.

Mari kita mulai dengan pertanyaan sederhana ini :
Lazimnya, siapa yang kita utamakan dalam hidup kita sehari-hari dan mengapa ia menjadi yang kita utamakan? Atau, orang seperti apakah yang biasanya saudara utamakan, yang saudara anggap penting?

Merenungkan mengenai hal ini, saya teringat bahwa dalam suatu kesempatan, Yesus pernah bertanya kepada murid-murid-Nya : siapakah yang lebih besar, yang duduk makan atau yang melayani? Bukankah dia yang duduk makan? Tetapi Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan? (Lukas 22 : 27). Mari kita lihat perkataan Yesus ini dari sudut pandang yang lain. Lazimnya, bukankah orang yang duduk makan itu adalah seseorang yang dipandang penting, utama, mulia ataupun terhormat? Bukankah dia adalah seseorang yang berada di atas orang yang melayaninya? Itu berarti dia itu penting, utama dan terpandang, bukan?.

Jadi, jika dalam tubuh ini kita itu adalah seseorang yang minta untuk di layani, maka saudara sekarang paham bahwa itu berarti kita menganggap diri kita itu penting atau lebih utama dari saudara yang lain. Bukan begitu? Namun jika saudara memberi diri untuk melayani saudara yang lain, hal itu berarti saudara menganggap saudara yang lain itu lebih penting dari diri saudara sendiri, dimana saudara mengutamakan dia. Pahamkah saudara akan logika yang sederhana ini? Jadi, yang manakah saudara, orang yang minta untuk dilayani ataukah yang melayani?

Atau mari kita lihat kebiasaan yang kita temui setiap hari di antara kita. Seumpamanya saudara ingin mengadakan sebuah perjamuan makan, siapakah yang akan saudara utamakan untuk saudara undang? Lazimnya, bukankah mereka yang paling minim adalah orang yang mampu membalas kebaikan saudara? Dan sekiranya memungkinkan, maka saudara akan mengutamakan mereka yang dapat mendatangkan keuntungan bagi saudara. Bukankah begitu? Kita berpikir kita sangat rohani ya? Lihatlah dari sikap kita selama ini dan bercerminlah. Tapi apa yang Yesus katakan mengenai hal ini? Teladan apa yang Ia sampaikan? “Undanglah (atau utamakanlah) mereka yang tidak dapat membalas saudara” (Lukas 14 : 14). Mereka yang buta, cacat dan seterusnya.

Jadi, jika saudara cermat memperhatikan maka saudara akan mendapati bahwa dunia ini sebenarnya sedang mengajarkan, mengarahkan dan membentuk diri kita untuk memandang bahwa diri kita sendirilah yang paling penting dan paling utama, bukan orang lain. Bukan begitu?. Dalam suatu kejadian di tuliskan bahwa Yesus mengajarkan sebuah perumpamaan karena Ia melihat tamu-tamu berusaha menduduki tempat kehormatan (Lukas 14 : 7). Dunia ini merangsang ego saudara. Dunia ingin menjadikan anda no 1 di dunia ini dan sebenarnya secara tidak langsung sedang membuat anda melawan Allah karena seharusnya yang berada pada posisi terutama dan pertama, seharusnya adalah Allah.

Allahlah dan kepentingan-Nyalah yang seharusnya menjadi hal yang terutama dalam hidup saudara dan saya. Dan jika benar demikian, maka seperti teladan Yesus, ketika Ia mengutamakan Allah dan kepentingan-Nya maka kepentingan sesamalah yang di diutamakan. Demikian juga, jika mengutamakan kepentingan Kristus maka saudara yang lainlah yang kita utamakan. Perhatikan apa yang Paulus katakan dalam Filipi 2 : 20 -21 “karena tak ada seorangpun, yang sehati dan sepikir dengan aku dan yang begitu bersungguh-sungguh memperhatikan kepentinganmu sebab semuanya mencari kepentingan sendiri, bukan kepentingan Kristus.

Kemudian jika saudara memperhatikan ayat-ayat sebelumnya, maka saudara akan menemukan sesuatu yang unik. Jika benar kita mengutamakan saudara yang lain maka saudara akan melakukannya dengan rela hati, bukannya dengan bersungut-sungut dan berbantah-bantahan. Jika yang terjadi adalah yang sebaliknya maka saudara benar mengutamakan saudara yang lain namun hanya dalam kata dan itu tidak dengan sepenuh hati. Mengapa? Karena saudara sebenarnya tidak rela jika yang lainlah yang di utamakan (Filipi 2 : 14). Banyak orang Kristen yang tidak menyadari akan hal ini, bahwa dengan melakukan sesuatu yang kelihatannya baik namun di sertai dengan sungutan dan perbantahan menjadikan kita beraib dan bernoda (Filipi 2 : 15) atau tidak layak.

Jadi inilah point ke dua yang ingin saya sampaikan :
Jika benar kita mengutamakan satu terhadap yang lain maka itu haruslah sesuatu yang berasal dan di mulai di tingkat hati. Apa maksud saya? Perhatikan Filipi 1 : 7. Paulus mengatakan kepada jemaat di Filipi : “kamu sekalian ada di dalam hati ku”. Oleh karenanya ia katakan : “setiap kali aku berdoa untuk kamu, aku selalu berdoa dengan sukacita (Filipi 1 : 4). Jadi, jika benar kita mengutamakan saudara kita yang lain maka pikiran dan hati kita adalah tentang apa yang menjadi kebaikan bagi saudara kita itu, “tentang mereka”. Bagaimana mungkin kita mengatakan kita mengutamakan saudara kita sedangkan saudara itu tidak ada dalam hati dan pikiran kita.
                                                                                    
Saudara tahu, bagaimana ketika seseorang sedang jatuh cinta? Maka orang itu ada di dalam hati dan pikirannya, bukankah begitu? Ia akan memikirkan apa yang terbaik yang dapat ia lakukan bagi orang yang ia cintai itu. Jadi, jika kita jatuh cinta terhadap Allah, maka sesama adalah yang kita utamakan karena Allah. Karena Allah begitu peduli terhadap mereka.

Yang terakhir :
Kata ini juga muncul di dalam Filipi 3 : 8, namun di sini diterjemahkan sebagai “lebih mulia”. Di sini Paulus katakan; karena pengenalannya akan Kristus itu lebih mulia daripada apapun maka dia rela kehilangan apapun demi Kristus. Jika kita aplikasikan kata ini kepada jemaat, maka hal ini bermakna bahwa jika sesama adalah yang kita utamakan maka sudah seharusnyalah kita rela untuk kehilangan apapun demi saudara kita itu. Semuanya boleh hilang dari kita namun jangan saudara kita itu karena ia mulia dan berharga bagi kita, kita mengutamakannya. Oleh karena itu, sikap saling menjaga dalam kasih sangatlah penting. Saudara mengutamakan kehidupan rohaninya. Inilah yang terpenting. Apapun demi kesejahteraan rohani saudara kita itu. Inilah yang paling utama; “apa yang dapat kita lakukan untuk kebaikan rohani saudara kita itu”.

Saudara akan dapati bahwa dalam hal saling mengutamakan, dimana saudara yang lain adalah yang pertama, bukan diri saudara, Tuhan akan bekerja dengan lebih melalui saudara dan gereja ini. Saudara bukan saja mengasihi orang itu seperti diri saudara sendiri namun Tuhan akan memampukan saudara untuk mengasihi orang itu jauh lebih dari bagaimana saudara mengasihi diri saudara sendiri selama ini.
Amin