Thursday, 7 March 2013

SALING MENGUTAMAKAN

SALING MENGUTAMAKAN
(Filipi 2 : 3)

Oleh : Aprys Radja

Kita akan meneruskan pembahasan kita mengenai seri besar kita selama ini. Dan hari ini, kita akan melihat mengenai satu lagi hal yang begitu penting, yang begitu sayang untuk dilewatkan dalam pembahasan kita, mengingat hal ini merupakan salah satu hal yang begitu penting dan sedemikian praktis untuk dipraktekkan di dalam gereja. Hal itu adalah mengenai “saling mengutamakan”.

Sebagaimana yang saudara ketahui bahwa belum lama ini, kami semua berada di daerah Jogja untuk sebuah pertemuan. Setibanya kami di Jogja, kami di hantarkan ke villa dimana kami akan menginap. Dalam perjalanan itu, kami memperoleh seorang driver yang baik, yang dengan semangatnya menceritakan kepada kami kronologis kejadian-kejadian yang belum lama ini terjadi di Jogja. Yang terbaru adalah mengenai meletusnya gunung merapi. Bagi orang ini, sebenarnya, sebelum hal ini terjadi, sudah ada tanda-tanda yang nyata, bahkan binatang-binatangpun merasakannya. Dan sesungguhnya, akibat yang ditimbulkan bagi manusia dapat diminimalkan dan korban yang ada dapat ditanggulangi dengan baik sekiranya masyarakat itu peka dan mau dengan segera melakukan sesuatu.

Ketika mendengar cerita orang ini, satu hal yang saya mengerti. Besarnya dampak dan korban yang ada adalah dikarenakan manusia tidak peka terhadap gejala alam dan tidak menghiraukannya sekalipun gejala tersebut begitu terlihat jelas. Hal ini dengan begitu baik menjelaskan apa yang juga terjadi di dalam hidup rohani kita. Apa yang saya maksudkan adalah bahwa keselamatan saudara dan juga gereja sangatlah bergantung kepada kepekaan saudara terhadap perkara-perkara rohani dan bagaimana saudara meresponinya. Apakah kita peka terhadap apa yang Tuhan sedang ingin sampaikan kepada kita dan juga terhadap kondisi rohani kita.

Dalam banyak kesempatan, memandang kepada bagaimana kondisi orang Kristen akhir-akhir ini, begitu banyaknya orang yang merasa jenuh dan hambar terhadap perkara-perkara rohani merupakan suatu keadaan yang sangat menakutkan. Firman Tuhan yang adalah air kehidupan, yang seharusnya menyegarkan menjadi terasa begitu biasa. Apa yang sebenarnya menjadi masalah dari semua hal ini? Salah satu alasan utamanya, yang tidak dapat kita pungkiri adalah ‘karena kita tidak hidup di dalamnya”, di dalam firman yang kita dengar. Kita mengetahuinya namun itu bukanlah kehidupan kita. Ia bukannya menjadi air yang mengalir keluar dari hidup kita dan menyegarkan orang lain namun malah menjadi air yang tergenang di dalam kita.

Begitu banyaknya orang Kristen yang tidak menyadari bahwa mereka saat ini telah berada di dalam perangkap si jahat. Jika hal-hal rohani telah menjadi sedemikian biasa bagi kita maka berhati-hatilah, kemungkinan besar kita telah jatuh dalam jeratnya. Segeralah bertindak. Jika perkataan seperti kasih, komitmen ataupun kualitas hidup terdengar biasa bagi saudara, maka berhati-hatilah.

Jika saudara tidak menghidupi dengan seutuhnya firman yang saudara dengar dan firman itu tidak hidup di dalam saudara maka berhati-hatilah! Saudara akan mendapati bahwa bukan hanya perkara-perkara rohani akan menjadi terasa biasa bagi saudara, namun hal itu juga akan berdampak kepada hubungan saudara dengan saudara yang lain di dalam tubuh ini. Hubungan itu akan menjadi terasa biasa dan hambar. Saya pastikan bahwa hal ini akan dengan segera terjadi.

Nah, berhubungan dengan hal ini, marilah kita melihat kepada topik kita pada hari ini dan bercermin kepada hal ini untuk melihat kondisi spiritual kita. Hal itu adalah mengenai “saling mengutamakan”. Paulus katakan, “sempurnakanlah sukacitaku dengan ini yaitu bahwa diantara jemaat : “yang satu menganggap yang lain lebih utama dari dirinya sendiri” atau “utamakanlah satu terhadap yang lain”.

Mari kita mulai dengan pertanyaan sederhana ini :
Lazimnya, siapa yang kita utamakan dalam hidup kita sehari-hari dan mengapa ia menjadi yang kita utamakan? Atau, orang seperti apakah yang biasanya saudara utamakan, yang saudara anggap penting?

Merenungkan mengenai hal ini, saya teringat bahwa dalam suatu kesempatan, Yesus pernah bertanya kepada murid-murid-Nya : siapakah yang lebih besar, yang duduk makan atau yang melayani? Bukankah dia yang duduk makan? Tetapi Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan? (Lukas 22 : 27). Mari kita lihat perkataan Yesus ini dari sudut pandang yang lain. Lazimnya, bukankah orang yang duduk makan itu adalah seseorang yang dipandang penting, utama, mulia ataupun terhormat? Bukankah dia adalah seseorang yang berada di atas orang yang melayaninya? Itu berarti dia itu penting, utama dan terpandang, bukan?.

Jadi, jika dalam tubuh ini kita itu adalah seseorang yang minta untuk di layani, maka saudara sekarang paham bahwa itu berarti kita menganggap diri kita itu penting atau lebih utama dari saudara yang lain. Bukan begitu? Namun jika saudara memberi diri untuk melayani saudara yang lain, hal itu berarti saudara menganggap saudara yang lain itu lebih penting dari diri saudara sendiri, dimana saudara mengutamakan dia. Pahamkah saudara akan logika yang sederhana ini? Jadi, yang manakah saudara, orang yang minta untuk dilayani ataukah yang melayani?

Atau mari kita lihat kebiasaan yang kita temui setiap hari di antara kita. Seumpamanya saudara ingin mengadakan sebuah perjamuan makan, siapakah yang akan saudara utamakan untuk saudara undang? Lazimnya, bukankah mereka yang paling minim adalah orang yang mampu membalas kebaikan saudara? Dan sekiranya memungkinkan, maka saudara akan mengutamakan mereka yang dapat mendatangkan keuntungan bagi saudara. Bukankah begitu? Kita berpikir kita sangat rohani ya? Lihatlah dari sikap kita selama ini dan bercerminlah. Tapi apa yang Yesus katakan mengenai hal ini? Teladan apa yang Ia sampaikan? “Undanglah (atau utamakanlah) mereka yang tidak dapat membalas saudara” (Lukas 14 : 14). Mereka yang buta, cacat dan seterusnya.

Jadi, jika saudara cermat memperhatikan maka saudara akan mendapati bahwa dunia ini sebenarnya sedang mengajarkan, mengarahkan dan membentuk diri kita untuk memandang bahwa diri kita sendirilah yang paling penting dan paling utama, bukan orang lain. Bukan begitu?. Dalam suatu kejadian di tuliskan bahwa Yesus mengajarkan sebuah perumpamaan karena Ia melihat tamu-tamu berusaha menduduki tempat kehormatan (Lukas 14 : 7). Dunia ini merangsang ego saudara. Dunia ingin menjadikan anda no 1 di dunia ini dan sebenarnya secara tidak langsung sedang membuat anda melawan Allah karena seharusnya yang berada pada posisi terutama dan pertama, seharusnya adalah Allah.

Allahlah dan kepentingan-Nyalah yang seharusnya menjadi hal yang terutama dalam hidup saudara dan saya. Dan jika benar demikian, maka seperti teladan Yesus, ketika Ia mengutamakan Allah dan kepentingan-Nya maka kepentingan sesamalah yang di diutamakan. Demikian juga, jika mengutamakan kepentingan Kristus maka saudara yang lainlah yang kita utamakan. Perhatikan apa yang Paulus katakan dalam Filipi 2 : 20 -21 “karena tak ada seorangpun, yang sehati dan sepikir dengan aku dan yang begitu bersungguh-sungguh memperhatikan kepentinganmu sebab semuanya mencari kepentingan sendiri, bukan kepentingan Kristus.

Kemudian jika saudara memperhatikan ayat-ayat sebelumnya, maka saudara akan menemukan sesuatu yang unik. Jika benar kita mengutamakan saudara yang lain maka saudara akan melakukannya dengan rela hati, bukannya dengan bersungut-sungut dan berbantah-bantahan. Jika yang terjadi adalah yang sebaliknya maka saudara benar mengutamakan saudara yang lain namun hanya dalam kata dan itu tidak dengan sepenuh hati. Mengapa? Karena saudara sebenarnya tidak rela jika yang lainlah yang di utamakan (Filipi 2 : 14). Banyak orang Kristen yang tidak menyadari akan hal ini, bahwa dengan melakukan sesuatu yang kelihatannya baik namun di sertai dengan sungutan dan perbantahan menjadikan kita beraib dan bernoda (Filipi 2 : 15) atau tidak layak.

Jadi inilah point ke dua yang ingin saya sampaikan :
Jika benar kita mengutamakan satu terhadap yang lain maka itu haruslah sesuatu yang berasal dan di mulai di tingkat hati. Apa maksud saya? Perhatikan Filipi 1 : 7. Paulus mengatakan kepada jemaat di Filipi : “kamu sekalian ada di dalam hati ku”. Oleh karenanya ia katakan : “setiap kali aku berdoa untuk kamu, aku selalu berdoa dengan sukacita (Filipi 1 : 4). Jadi, jika benar kita mengutamakan saudara kita yang lain maka pikiran dan hati kita adalah tentang apa yang menjadi kebaikan bagi saudara kita itu, “tentang mereka”. Bagaimana mungkin kita mengatakan kita mengutamakan saudara kita sedangkan saudara itu tidak ada dalam hati dan pikiran kita.
                                                                                    
Saudara tahu, bagaimana ketika seseorang sedang jatuh cinta? Maka orang itu ada di dalam hati dan pikirannya, bukankah begitu? Ia akan memikirkan apa yang terbaik yang dapat ia lakukan bagi orang yang ia cintai itu. Jadi, jika kita jatuh cinta terhadap Allah, maka sesama adalah yang kita utamakan karena Allah. Karena Allah begitu peduli terhadap mereka.

Yang terakhir :
Kata ini juga muncul di dalam Filipi 3 : 8, namun di sini diterjemahkan sebagai “lebih mulia”. Di sini Paulus katakan; karena pengenalannya akan Kristus itu lebih mulia daripada apapun maka dia rela kehilangan apapun demi Kristus. Jika kita aplikasikan kata ini kepada jemaat, maka hal ini bermakna bahwa jika sesama adalah yang kita utamakan maka sudah seharusnyalah kita rela untuk kehilangan apapun demi saudara kita itu. Semuanya boleh hilang dari kita namun jangan saudara kita itu karena ia mulia dan berharga bagi kita, kita mengutamakannya. Oleh karena itu, sikap saling menjaga dalam kasih sangatlah penting. Saudara mengutamakan kehidupan rohaninya. Inilah yang terpenting. Apapun demi kesejahteraan rohani saudara kita itu. Inilah yang paling utama; “apa yang dapat kita lakukan untuk kebaikan rohani saudara kita itu”.

Saudara akan dapati bahwa dalam hal saling mengutamakan, dimana saudara yang lain adalah yang pertama, bukan diri saudara, Tuhan akan bekerja dengan lebih melalui saudara dan gereja ini. Saudara bukan saja mengasihi orang itu seperti diri saudara sendiri namun Tuhan akan memampukan saudara untuk mengasihi orang itu jauh lebih dari bagaimana saudara mengasihi diri saudara sendiri selama ini.
Amin

Saturday, 16 February 2013

SALING BERKATA BENAR

SALING BERKATA BENAR 
Efesus 4 : 25 
By. Aprys Radja



Kata-kata memiliki pengaruh yang besar!.
Hari ini saya akan membahas mengenai : “saling berkata benar”. Dari hal ini maka kita langsung melihat bahwa hal ini berkaitan dengan mulut kita, dengan kata-kata kita. Beberapa dari kita mungkin menyadari mengenai betapa besarnya pengaruh dari kata-kata. Hal ini tidak begitu mengejutkan kita karena kita sendiri bahkan mungkin telah mengalaminya. Adanya saja kesalahpahaman karena kabar yang kita terima itu tidak berimbang ataupun hanya berupa isu ataupun gosip. Pertengkaran suami isteri karena kata-kata yang tidak menyenangkan. Seseorang itu merasa senang karena kata-kata yang ia dengar. Dalam dunia ini, kata-kata memainkan peranan yang penting. Bagaimana saudara memulai suatu hubungan? dengan kata-kata. Bagaimana saudara menyatakan perasaan saudara? bisa dengan tindakan tapi juga dengan kata-kata. Namun hendaklah kita mengingat perkataan Yohanes : hendaklah kasihmu itu jangan hanya kata-kata tapi perbuatan. Tapi apa yang ingin saya katakan disini adalah kata-kata, mulut saudara itu, memiliki pengaruh yang besar dan akan mengakibatkan sesuatu yang besar pula. Jika saudara tahu menggunakan dengan baik dan bijaksana maka hal itu akan menghasilkan sesuatu yang baik.

Perkataan kita adalah cerminan siapa kita!.
Ada satu hal yang Tuhan katakan dengan terus-terang : apa yang keluar dari mulut itu meluap dari hati! Apa yang ingin saya katakan adalah demikian : kata-kata saudara itu adalah cerminan siapa saudara. Sering kita mengatakan apa yang kita lakukan adalah cerminan siapa kita tapi tahukah saudara bahwa kata-kata saudara juga adalah cerminan siapa saudara? Bagaimana kata-kata orang yang penuh kekuatiran? Bagaimana mereka yang memiliki iman berkata? Ini bukan hanya sekedar mengungkapkan pengetahuan karena terbiasa mengatakan kata-kata tersebut tetapi sesuatu yang mengungkapkan keadaan hati. Orang Kristen terbiasa mengatakan jangan kuatir, percaya saja tetapi waktu keadaan itu menimpa dia, dia berkata yang lain. Mereka biasa berkata haleluyah tapi itu tidaklah berarti apa-apa bagi saya. Ketika saudara dalam tekanan masihkah saudara berkata “haleluyah”, nah itulah yang berarti, itulah jati diri saudara. Saya sudah seringkali mendengarkata-kata rohani dikatakan dengan begitu dangkal di banyak tempat. Tapi ketika masalah begitu menekan, orang yang sama, mengeluarkan kata-kata yang berlawanan 180 derajat dengan yang sebelumnya ia katakan. Perkataan saudara itu tidak ada artinya hingga saudara berada pada kondisi tersebut dan lihatlah perkataan yang keluar dari mulut saudara. Inilah yang ingin saya katakan  : “bahwa percakapan kita mencerminkan kondisi spiritual kita”. Apa saudara tidak menyadarinya? perhatikan bagaimana jika hati saudara merasa tidak nyaman dengan seseorang? Bagaimana kalau keadaan rohani saudara sedang bermasalah? Bagaimana jika kita dalam keadaan kekurangan? Yesus memberitahu kita bahwa hal yang memberitahu siapa oang itu adalah ucapan orang itu karena semua yang keluar dari mulut datangnya dari renungan hatinya – intisari atau esensi siapa kita sebenarnya. Yesus memberitahu kita bahwa ucapan orang yang baik sangatlah baik karena hatinya baik; ucapan yang mengalir dari orang yang hatinya jahat adalah jahat karena ia keluar dari hati yang jahat. Jadi, saudara bisa mengecek siapa saudara dari percakapan saudara! Jadi, suatu waktu jika saudara sedang berbincang-bincang coba saudara dengar apa yang sedang saudara perbincangkan! Sekali lagi, perkataan saudara adalah cerminan siapa saudara (baca Matius 12 : 34-37).

Berkata benar vs mencari pujian manusia!.
Jika saudara melihat kepada nats dimana kata “benar” dalam efesus 4 : 25 ini muncul pertama kali (dalam bahasa sumbernya-Yunani), yaitu di Matius 22:16-18, saudara akan mendapati tentang bagaimana orang-orang farisi ingin menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. Apa yang mereka katakan kepada Yesus adalah benar. Itulah pribadi Yesus. Kata itu pada nats ini diterjemahkan sebagai “jujur”. Jika saudara ingin menjadi seorang yang dapat berkata benar, maka saudara haruslah seseorang yang tidak takut terhadap apapun dan siapapun (dalam hal kebenaran) dan juga tidak mencari muka (ada orang yang mengatakan kebenaran hanya untuk mencari muka atau pengakuan – tindakannya benar tapi motifnya juga harus benar, inilah Yesus). Saudara lihat apa yang mereka katakan adalah benar dan bahkan disertai pujian! Berhati-hatilah jika seseorang yang menentang saudara mulai memuji saudara. Amsal mengatakan sahabat memukul dengan maksud baik namun musuh mencium dengan berlimpah-limpah. Masalahnya dengan kebanyakkan orang Kristen, mengapa mereka gampang di perdaya karena pujian gampang sekali mengalahkan mereka.

Perkataan yang benar berasal dari hati yang benar, seorang manusia baru!.
Ketika saya memperhatikan pengajaran Tuhan kita, Yesus Kristus, Ia tak begitu meluangkan waktu untuk mengurusi perkara membatasi perkara-perkara yang tampak. Pengajaran-Nya selalu langsung berhubungan dengan aspek internal manusia, yaitu “hati”manusia. Mengapa? karena anda tidak akan pernah berhenti melakukan sesuatu yang tidak benar tanpa hati anda diubahkan terlebih dahulu. Dengan hanya mengatakan jangan, itu hanya menghentikan tindakan eksternal tetapi hal itu tidak akan pernah mengubah hatinya. Inilah yang juga terlihat dari Paulus. Sebelum ia masuk ke dalam hal ini : Buanglah dusta dan berkatalah benar. Di ayat 20 ia mengatakan : ‘tetapi bukan demikian, kamu yang mempelajari Kristus”. - Jika kamu memang telah mendengar Dia dan di ajar oleh-Nya (21). Apa itu? Untuk meninggalkan kehidupan kamu yang lama (manusia lama) dan mengenakan manusia baru. Dia menangani hal yang hakiki terlebih dahulu, yaitu kamu harus mati terhadap kehidupan kamu yang lama agar kamu mengenakkan manusia baru. Manusia baru dengan hati yang baru. Dan jika benar hal ini bagi kita, bahwa kita adalah sesama anggota tubuh Kristus maka “buanglah dusta dan berkatalah benar”. Uniknya kata menanggalkan di ayat 22 adalah kata yang sama untuk “buang” di ayat 25 ini dalam bahasa sumbernya . Manusia lama diparalelkan dengan “dusta” dan manusia baru diparalelkan dengan “berkata benar”. Dengan kata lain, berkata benar adalah ciri seorang manusia baru, seorang anggota tubuh Kristus.
 
Apa maksudnya hal ini? Apakah ini hanya sebatas jangan lagi berbohong, menipu dan yang lainnya dan berkatalah yang benar, yang jujur? Apakah hanya sebatas ini?

Dusta vs Berkata benar!
Jika demikian apa maksudnya berkata benar? Apa artinya berdusta? Apakah berkata benar berarti mengatakan firman Tuhan saja atau yang penting apa yang saya katakan itu benar dan jujur? Apakah dusta itu hanya berarti berbohong? Apakah berkata benar itu hanya berarti bahwa yang saya katakan adalah sesuatu yang benar? Jika saudara membaca surat kepada jemaat ini, jemaat ini memiliki keunggulan dibandingkan jemaat Korintus. Melihat kepada kitab Wahyu, sedikit kita mengetahui bahwa jemaat ini adalah jemaat yang secara rohani cukup luar biasa. Dengan kualitas yang luar biasa. Di wahyu 2 kita melihat kalau mereka memiliki kualitas yang mengagumkan karena mereka dapat mengetahui bahwa seorang itu rasul palsu. Itu membutuhkan kualitas yang luar biasa. Jadi, apakah Paulus hanya sekedar mengatakan untuk tidak berbohong dan katakanlah kebenaran, berkatalah jujur?

Jadi, apa itu dusta? Dan apa itu berkata benar?.
Saudara tahu bagaimana suatu dusta dapat diterima sebagai kebenaran? Mengapa ia tidak terlihat sebagai dusta? Dusta yang paling efektif adalah dusta yang sebagiannya benar karena ia berisikan elemen kebenaran. Dusta yang total tidaklah pernah meyakinkan. Saudara tahu bagaimana Yesus di cobai oleh Iblis? Ia menggunakan firman. Bagaimana ia mencobai Hawa? Ia menggunakan firman. Dalam kasus Hawa ia menggunakan firman namun tidak utuh. Dalam kasus Yesus ia menggunakan firman sebagai pembenaran akan apa yang kelihatan masuk akal di lakukan. Dusta yang tidak terlihat sebagai dusta merupakan bahaya di dalam gereja yang sesungguhnya, inilah cara iblis. Inilah maksud dari kata memperdaya. Bagaimana seseorang diperdaya? Ia di buat untuk melihat bahwa hal itu benar.

Dengan kata lain, berkata benar berarti : mengatakan sesuatu yang seutuhnya adalah kebenaran.
Jika saudara melihat orang yang sedang membela diri sebagai contohnya, dia hanya akan menunjukkan fakta-fakta yang akan menunjukkan bahwa dia tidak bersalah. Apakah benar dia sama sekali tidak bersalah? Kecenderungannya adalah ia menunjukkan kebenarannya dan kesalahannya diabaikan begitu saja. Apakah ini kebenaran? Banyak kali kita terjebak dalam hal ini sehingga persekutuan kita hancur. Semua ingin terlihat benar sehingga hanya menunjukkan kebenarannya saja. Ini sesuatu yang palsu.

Kata yang digunakan disini sebagai dusta juga memiliki ide berkaitan dengan sesuatu yang ”palsu”. Apa artinya palsu? Ia mirip sekali dengan yang asli. Bahkan mungkin sangatlah mirip namun tidak sejati. Terkadang mendengar pengajaran-pengajaran yang ada sekarang membuat saya begitu takut karena sekalipun palsu banyak orang kristen yang tidak sanggup untuk membedakannya. Palsu mirip dengan yang asli, tapi ada yang ditambahkan ke dalamnya. Dia bukan hanya kebenaran tapi telah tercampur. Tidak murni.

Dengan kata lain, siapakah mereka yang dapat berkata benar? Mereka yang murni, yang tidak memiliki alasan lain selain hanya kebenaran. Mereka yang hidup dalam kebenaran itu. Terkadang perasaan saudara dapat merusakkan kebenaran yang murni. Menyatakan kebenaran namun dengan sikap dan motif yang salah. Berhati-hatilah.

Sebagai peringatan, bacalah :
Wahyu 21:27  27 Tetapi tidak akan masuk ke dalamnya sesuatu yang najis, atau orang yang melakukan kekejian atau dusta, tetapi hanya mereka yang namanya tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba itu.
Wahyu 22:15  15 Tetapi anjing-anjing dan tukang-tukang sihir, orang-orang sundal, orang-orang pembunuh, penyembah-penyembah berhala dan setiap orang yang mencintai dusta dan yang melakukannya, tinggal di luar. Oleh karenanya di dalam Alkitab kita mengenal adanya saudara seiman palsu, rasul palsu, guru palsu, saksi palsu, nabi palsu, mesias palsu. Jadi, kepalsuan ini berada dalam semua golongan dalam gereja dan semua bisa menjadi seorang yang palsu.

Dusta dapat membunuh!.
Mengapa ini begitu penting untuk gereja? Mengapa kerajaan Allah menekankan hal yang sama?. Kita teringat akan apa? Kebenanaran berasal dari Allah dan dusta berasal dari Iblis! Adakah kebenaran Allah itu hanya sebagian? Dapatkah ia tercampur dengan sesuatu yang berasal dari si jahat? Dengan kata lain, segala sesuatu yang diluar dari kebenaran berasal dari Iblis. Seorang Kristen hanya mengatakan kebenaran, yang seutuhnya kebenaran. Contohnya kejadian di Yohanes 8! Apa yang dikatakan di sana? Iblis adalah pendusta dan juga pembunuh. Dua kata yang diparalelkan dihubungkan dengan karakter iblis. Apa yang dapat kita pelajari? Dusta adalah sekarakter dengan membunuh. Mengertikah apa yang saya maksudkan? Dusta, ketidakbenaran, perkataan yang tidak benar, yang sebagian benar dapat membunuh, membinasakan. Berapa kali terjadi kekacauan dan ketidakharmonisan diantara sesama anggota gereja hanya dikarena suatu perkataan dusta, yang kelihatannya benar? Hanya dikarenakan mempercayai gosip? Dikarenakan karena kita hanya menggunakan satu telinga bukan kedua-dua telinga kita? Dapatkah dusta menghancurkan gereja? Jawablah sendiri. Oleh karenanya, penting untuk kita berkata benar satu dengan yang lainnya sebagai sesama anggota.

Perhatikan kejadian di Eden!.
Iblis berdusta kepada Adam dan Hawa, dan akhirnya ia membunuh mereka secara rohani. Mereka mati secara spiritual. Berbohong kepada seseorang berarti kita sedang mengarahkannya kepada kematian, karena ia akan menghidupi dusta itu, kepalsuan itu sebagai kebenaran bahkan untuk itu ia dapat melangkahi kehendak Allah. Kita harus mengatakan kebenaran yang utuh, hanya kebenaran, jika tidak, kita akan menemukan bahwa kita berada di pihaknya Iblis.
Ayat terakhir:
1 Korintus 5:8   8 Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran. Gereja harus tanpa ragi melainkan dengan kemurnian dan kebenaran. 2 hal ini bersama-sama.

A M I N

Wednesday, 13 February 2013

Bagaimana berdoa?



DOA ADALAH MASUK KE DALAM HUBUNGAN YANG NYATA
DENGAN TUHAN
By. Aprys Radja
Kepentingannya : “Berhasil tidaknya kehidupan rohani kita dan pelayanan kita bagi Tuhan bergantung kepada hal ini. Inilah letak kekuatan kita yang sebenarnya yaitu : “bahwa kita memiliki hubungan dan pengalaman bersama dengan-Nya” dan dengan itu, kita memperoleh kekuatan.
Salah satu hal penting dalam hal ini adalah “doa”. Doa merupakan waktu dimana kita dapat bertemu dengan Tuhan dan berbicara dengan-Nya” ; dan menjalin hubungan dengan-Nya secara intim.
Pernahkan saudara bertemu dengan Tuhan di dalam Doa?. Jika tidak, mengapa?. Karena seringkali doa kita hanyalah suatu kegiatan. Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam hal doa dalam hal praktikal.
1.    Doa adalah suatu hal yang sengaja kita lakukan, sesuatu yang sudah kita rencanakan. Kita sengaja meluangkan waktu untuk itu. Jadi, bukan hanya kerinduan tapi suatu kehendak untuk berdoa (Lukas 11 : 1 dan Matius 14 : 23). Ini penting karena berhubungan dengan bagaimana kita dapat memiliki fokus dalam doa, bagaimana berdoa tanpa di ganggu.

Karena Dia itu adalah Allah maka sudah selayaknya kita berusaha melakukan yang terbaik untuk berdoa, menetapkan suatu waktu bagi-Nya dan tidak seenaknya meminta Tuhan hadir setiap saat, kapan saja kita mau.

2.    Doa harus muncul dari hati, dari pengenalan hati, dari melihat dirinya yang sebenarnya dihadapan Tuhan. Ini adalah sesuatu yang berasal dari hati dan doa tidak harus panjang. Jangan bertele-tele dalam doa (Lukas 18 : 9-13).

3.    Doa yang sesungguhnya adalah Allah yang banyak berbicara dan manusia sedikit berbicara. Luangkanlah waktu untuk mendengarkan Dia. Berhentilah bergumul; tenanglah dan diam mendengarkan Dia (Mazmur 46 : 11). Arahkan perhatian kita kepada-Nya dan berserulah kepada nama-Nya.

4.    Milikilah waktu persiapan untuk doa agar ketika kita masuk di dalam doa, kita dapat berdiam dan tinggal tenang; baik fisik, mental maupun secara rohani. Semuanya diam. Ini dengan tujuan agar perhatian kita hanya tertuju kepada Tuhan. Kita tidak bisa fokus jika pikiran kita melayang ke tempat lain. Disinilah pentingnya waktu persiapan.

5.    Doa adalah untuk menemukan-Nya dan jika ia menunjukkan sesuatu yang menghambat hubungan kita dengan-Nya, maka segeralah menyelesaikannya.

 
Secara ringkas, belajarlah demikian dalam hal doa :

1.    Tetapkan jam doa kita

2.    Persiapkan hati kita
Waktu persiapan ini biar digunakan untuk mendisiplinkan diri.
Berapa lama? Tergantung saudara.

3.    Di dalam doa, biar kata-kata kita sedikit. Biarkan Tuhan yang banyak bicara, apapun yang ingin Ia katakan. Di pihak kita, kita harus siap melakukan apapun yang Ia katakan.

4.    Jangan batasi Tuhan dengan suatu metode bagaimana Ia harus bicara.

5.    Kita harus menentukan lamanya doa secara bijaksana agar kita tidak memperpendek atau memaksakan memperpanjang doa kita, yang pada akhirnya membuat kita tidak fokus.

Selamat mempraktekan!.


Tuesday, 12 February 2013

Mengejar Kesempurnaan



 MENGEJAR KESEMPURNAAN

By. Aprys Radja

Mari kita melanjutkan pembahasan kita mengenai “kekudusan”. Hari ini kita ingin melihat satu lagi bagian penting pengajaran firman Tuhan yang berhubungan erat dengan kekudusan namun yang sangat jarang kita dengar karena sangat jarang ada yang mengajarkan hal ini. Hal ini mungkin dikarenakan kebanyakkan orang memandangnya sebagai sesuatu yang tidak relevan untuk disampaikan saat ini. Sekalipun hal ini begitu sangat sering muncul dalam Alkitab namun kebanyakkan orang tidak begitu memperhatikannya karena pada kenyataannya kebanyakkan kita tidak tahu seperti apa itu dan kalaupun ada yang memahaminya, hal itu merupakan sesuatu yang sulit untuk dicapai berdasarkan kenyataan hidup mereka.
Tujuan Hidup Kristen : “Kesempurnaan di dalam Kristus”
Hal yang ingin kita bicarakan pada hari ini adalah mengenai “mengejar kesempurnaan”. Apakah saudara terkejut dengan tema kita ini?. Apakah saudara merasa ada kesalahan dalam apa yang saudara dengar?. Tidak , saudara tidak salah mendengar. Inilah tujuan kehidupan kekristenan sebenarnya. Sebagaimana yang Rasul Paulus katakan : “Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus. Itulah yang kuusahakan dan kupergumulkan dengan segala tenaga sesuai dengan kuasa-Nya, yang bekerja dengan kuat di dalam aku (Kolose 1 : 28-29)”. Perhatikan Alkitab saudara, apakah nats yang saya bacakan dari Alkitab saya berbeda dari yang tercatat dalam Alkitab saudara?. Saudara lihat, apa yang menjadi sasaran dari pelayanan Paulus?. Apakah yang sedang ia usahakan dan ia pergumulkan dengan segala tenaga sesuai kuasa Tuhan di dalamnya?. Yaitu “untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan di dalam Kristus”. Saudara lihat : “kesempurnaan di dalam Kristus”. Ini bukan istilah teologis semata namun kenyataan hidup. Dengan kata lain, saudara tidak dapat memisahkan persoalan keselamatan dengan kesempurnaan. Jika saudara memandang mengejar kesempurnaan itu tidak penting maka lupakan saja mengenai keselamatan.
Mari kita lihat perkara ini dari sudut yang lain.
Pada kenyataannya, hampir semua orang memandang penting kesempurnaan. Mengapa saya katakan demikian?. Pada kenyataannya, dalam kehidupan sehari-hari, kebanyakan orang ingin terlihat sempurna dihadapan orang lain, bukan?. Kebanyakkan orang ingin terlihat istimewa. Mungkin beberapa orang tidak karena sikap puas diri atau kemalasan mereka. Namun inilah kenyataannya. Oleh karena itu, banyak orang yang begitu memperhatikan pakaian apa yang ia gunakan, bagaimana penampilan tubuh dan wajahnya, dan lain sebagainya. Dan bagaimana mereka mencapai semua itu?. Dengan diet dan beberapa terapi olah raga sekalipun itu sangat tidak menyenangkan. Mereka bahkan sanggup menghabiskan begitu banyak uang untuk mengoperasi wajah mereka. Ada yang menggunakan alis mata yang bahkan harganya hingga ratusan juta. Bayangkan ini; “sebuah alis mata dengan harga ratusan juta”. Semua dilakukan agar diri mereka terlihat sempurna. Nampaknya jika itu berhubungan dengan diri kita maka kita dapat melakukan dan mengejar yang terbaik, bukan?. Bukan hanya itu, kebanyakkan orang bahkan ingin terlihat sempurna dalam pekerjaan mereka. Mereka ingin apa yang mererka kerjakan itu sempurna karena itu berdampak langsung kepada penghasilan dan juga nama besar mereka. Dan saudara lihat, untuk hal ini, orang-orang dapat bekerja matian-matian, menghabiskan banyak waktu dan tenaga bahkan tidak sedikit uang yang dikorbankan.
Kesempurnaan Dan Keselamatan Tidak Dapat Dipisahkan
Namun ketika kita bicara mengenai “kesempurnaan” dalam hidup rohani, hal itu dianggap tidak realistis, tidaklah relevan. Mengapa demikian?. Ada dua kemungkinannya. Yang pertama adalah ketidakmengertian kita mengenai apa itu kesempurnaan secara rohani atau alasan lainnya adalah; dikarenakan kita sebenarnya mengerti mengenai hal ini namun kemudian kita memandangnya tidak realistis karena harganya adalah kita harus selesai dengan diri kita, dengan kepentingan diri kita, sekalipun kita tahu bahwa ia berhubungan dengan keselamatan.
Jika ada dari antara saudara yang pernah mencoba dengan serius untuk menjalani hidup sebagai seorang Kristen untuk satu hari saja maka saudara akan benar-benar bersimpati dengan  orang-orang yang menyatakan bahwa kesempurnaan itu tidak dapat diterapkan. Mengapa? Sebagai contohnya yaitu Matius 5 : 48 - dikatakan : “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna”. Dan apa konteksnya di sini?. “Sempurna dalam hal mengasihi”. Seperti apa itu?. Apakah “saudara mengasihi sesama seperti diri saudara sendiri?” atau mampukah saudara untuk mengasihi musuh saudara?. Oleh karenanya kita mendapati bahwa jalan sebagai seorang Kristen ini begitu sangat sempit dan sulit. Tetapi pertanyaannya adalah apakah Tuhan yang sengaja menjadikan hidup saudara sebagai seorang Kristen itu sulit?. Apakah Dia yang menjadikan jalan itu begitu sempit?. Apakah Dia senang melihat saudara kesususahan?. Tidak. Jalan itu sempit dan begitu sulit untuk dilalui karena kita belum lagi selesai dengan diri kita, dengan kepentingan kita. Jika kita mau, oleh kasih karunia-Nya, kita dapat menghidupinya. Dalam Alkitab, mereka yang sempurna merujuk kepada mereka yang secara rohani dewasa. Seperti apakah mereka yang dewasa secara rohani?. Mereka yang selesai dengan ego mereka, kepentingan dirinya sendiri. Setiap hari mereka hidup dengan sikap semacam ini.
Melalui hal ini saya juga ingin menegakkan satu hal yang sangat penting kepada saudara melalui perkara kesempurnaan ini. Apa itu?. Jika saudara memperhatikan Filipi 3 secara khusus, saudara akan mendapati konsep mengenai kesempurnaan itu begitu menonjol dan sebenarnya dalam pasal ini, terdapat 3 jenis kesempurnaan dan ketiganya adalah berbeda. Saya harap saudara dapat melihat hal ini hari ini sehingga tidak ada kesalahpahaman dalam memandang hal ini.
Kesempurnaan Dalam Daging Sangatlah Berbahaya
Mari kita lihat yang pertama pada Filipi 3 : 4-6.
Satu hal yang menarik, Paulus mengatakan bahwa dalam ketaatannya kepada hukum Taurat, ia tidak bercela. Sangat menarik. Paulus mengatakan bahwa bahkan dalam hidupnya yang lama, ia adalah orang yang sempurna dalam ketaatan akan Taurat. Dalam hal-hal lahiriah, ia tidak ada cacatnya. Jadi, saudara lihat bahkan seseorang yang masih hidup dalam daging, dalam manusianya yang lama, dalam hidup lamanya, dapat mencapai apa yang namanya kesempurnaan.
Tetapi ada satu hal yang sangat berbahaya dari orang dengan kesempurnaan jenis ini. Saudara tahu, kesempurnaan jenis ini akan membawa saudara kemana?. Apa yang terjadi dengan Paulus sebagaimana yang ia beritahukan kepada kita dalam Filipi 3 ini?.  Ia menjadi seorang penganiaya pengikut Kristus, para pengikut jalan Tuhan. Dan saudara tahu mengapa ia menganiaya mereka?. Karena ia menganggap itu sebagai kewajiban agamawinya, sesuatu yang ia pandang  sebagai kebenaran. Dalam kasus Paulus ini, ia bahkan melakukan semua itu dengan semangat yang berapi-api. Dan apa yang dihasilkan?. Seorang benar seperti Stefanus  dihukum mati dihadapannya dan kemudian para pengikut Tuhan tercerai-berai. Sangat mengerikan apa yang dapat dihasilkan oleh kesempurnaan manusia secara lahiriah karena ia akan menghasilkan fanatisme, suatu semangat antusias, semangat manusia yang berapi-api namun yang menegakkan kebenaran diri sendiri dihadapan Allah. Inilah kesempurnaan dalam daging. Kesempurnaan jenis ini, sekalipun dilakukan bagi Tuhan namun berpusatkan pada manusia, pada diri sendiri dan dipengaruhi oleh ide-ide kesempurnaan manusiawi, dimana ia dengan ketat manaati tradisi manusia dan mencari pujian manusia.
Oleh karena itu berhati-hatilah!. Bahkan semangat dalam Alkitabpun bisa menjadi sesuatu yang sangat berbahaya. Mengapa? Karena ada semangat yang rohani bagi Allah namun ada juga semangat yang manusiawi bagi Allah. Semangat yang manusiawi ini sangat mudah dipengaruhi oleh kecemburuan dan hal-hal yang dari daging. Sebagai contohnya di dalam surat Filipi inipun kita mendapati bawa ada orang yang memberitakan Kristus karena dengki dan perselisihan, dan bukan dengan maksud yang baik, bukan karena kasih, namun kepentingan diri sendiri dan dengan maksud yang tidak iklas (Filipi 1 : 15-17). Inilah bahayanya. Kesempurnaan jenis ini digerakkan oleh semangat yang kedagingan, yang dimotivasikan oleh diri sendiri. Semangat mereka bagi Tuhan memang muncul dari komitmen kepada Tuhan tetapi digerakan oleh motif yang salah.
Semangat jenis ini, secara eksternal atau dari luar tidaklah mudah untuk dibedakan, manakah yang rohani dan mana yang daging. Mengapa? Karena keduanya sama-sama merupakan semangat bagi Allah tetapi motivasi kedua jenis semangat ini sama sekali berbeda. Keduanya bisa melakukan hal yang sama bagi Tuhan namun apa yang menggerakkan mereka dan yang menjadi pusat dari apa yang mereka lakukan bisa sama sekali berbeda. Jadi berhati-hatilah!. Kesempurnaan semacam apa yang sedang saudara kejar sebenarnya?. Bayangkan, orang seperti Paulus (pada waktu itu masih benama Saulus), seorang yang ahli dalam Taurat, seorang ahli teologi di bawah didikan seorang rabi besar yaitu rabi Gamaliel Agung, dapat terjebak dalam hal ini.
Kesempurnaan Rohani Adalah Bagi Mereka Yang Rohani, Bukan Yang Dibawah Daging
Oleh karenanya, sebelum kita berbicara mengenai mengejar kesempurnaan, hal pertama yang saya ingin saudara tanyakan dengan serius adalah apakah hidup saudara masih berada di bawah daging?. Dibawah kendali daging?. Dibawah cara hidup saudara yang lama?. Jika iya, dengarlah dengan baik saran saya : “janganlah saudara mengejar kesempurnaan”. Mengapa?. Jika saudara masih lagi berada dibawah daging dan saudara mengejar kesempurnaan maka saudara akan berakhir dengan kesempurnaan yang salah. Oleh karenanya, yang paling awal yang harus diperhatikan adalah bagaimana saudara memulai hidup kekristenan saudara ini. Saudara haruslah mengalami regenerasi, kelahiran baru dari Allah. Dengan demikian, ini mengarahkan saudara untuk terlebih dahulu mengambil keputusan untuk selesai dengan diri saudara, dengan hidup lama saudara yang berpusatkan ego saudara itu. Benar-benar selesai dengan dosa, dunia dan diri saudara.
Ciri AntiKristus
Saya ingin saudara memperhatikan hal ini dengan sungguh-sungguh karena sebagaimana yang telah diperingatkan kepada kita oleh firman bahwa bahkan beberapa musuh terbesar gereja itu sendiri muncul atau berasal dari gereja. Sebagai contoh; diberitahukan kepada kita dalam 1 Yoh 2 : 18-19 bahwa antikristus itu berasal dari antara kita namun mereka itu sebenarnya tidak sungguh-sungguh termasuk ke dalam kita. Mengapa?. Mereka adalah orang-orang yang mungkin telah di didik dalam kebenaran firman Tuhan bahkan mungkin telah dibaptis namun yang sama sekali belum pernah mengalami kelahiran baru dari Allah. Mengapa?. Karena mereka belum pernah benar-benar selesai dengan diri mereka. Dan salah satu tanda dari antikristus adalah bahwa mereka ingin menjadi yang no 1 digereja Tuhan, bukan lagi Allah dan Kristus. Mereka mengejar kesempurnaan namun bukan Allah fokusnya namun diri mereka sendiri. Oleh karena itu, hati dan motif kita haruslah sepenuhnya diselidiki dihadapan Allah.
Yang sempurna secara rohani : “Hidupnya, Hatinya dan Seluruh Pikirannya berpusatkan kepada Kristus dan Allah.
Nah, bagaimana dengan kesempurnaan yang rohani?. Seperti apakah orang yang sedang mengejar kesempurnaan yang rohani?. Saudara dapat melihatnya di dalam Filipi 3 : 15. Apa yang dikatakan di sana? : “Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu”. Kata “kita” disini termasuk juga Paulus dan ia sedang merujuk kepada kesempurnaan secara rohani di sini. Perhatikan apa yang ia katakan di Filipi 3 : 13-14 – “Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus”.
Ia mengatakan bahwa ini yang ia lakukan yaitu ia melupakan apa yang dibelakangnya. Apa itu? Segala pencapaian-pencapaian lahiriahnya itu (Filipi 3 : 5-6), termasuk kesempurnaaan lahiriahnya itu. Bukan hanya itu; segala yang dibelakangnya termasuk dirinya sendiri. Ia telah memutuskan untuk selesai dengan dirinya. Bahkan dia telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah. Hal ini dikarenakan matanya tertuju untuk mengenal Kristus (Filipi 3 : 8, 10). Inilah cara pikir mereka yang sempurna. Mereka yang sempurna secara rohani, hidupnya, hatinya dan seluruh pikirannya berpusatkan kepada Kristus dan Allah.
Dengan demikian, sekarang saudara dapat melihat bahwa kesempurnaan rohani di dalam Alkitab berkaitan dengan isi dan sikap hati kita. Paulus tidak sedang mengatakan bahwa ia telah sempurna secara absolut yaitu kehidupan yang sempurna secara moral dimana ia tidak melakukan kesalahan sedikitpun; karena pada kenyataannya, sekalipun hati kita sempurna bagi Allah dan kita benar-benar berusaha menjadi sempurna, adakalanya kita melakukan kesalahan karena kurangnya pemahaman akan perkara-perkara rohani. Niat kita mungkin baik tetapi pelaksanaannya mungkin saja salah karena kita tidak mengetahui tindakan yang paling tepat untuk dilakukan pada waktu dan situasi-situasi tertentu. Hal ini terutama nampak pada mereka yang baru menjadi seorang percaya, bagi mereka yang masih belum belajar hidup bergaul  dengan Tuhan dan belajar mengenal kehendak Tuhan. Roh Allah siap membimbing kita dalam kebenaran namun itu terbatasi oleh kemampuan kita untuk dapat berkomunikasi dengan-Nya.
Kesempurnaan ini berpusatkan kepada Allah dan berasal dari sikap hati yan sempurna kepada Allah. Dengan demikian, ia bukanlah sesuatu yang dikejar untuk dipamerkan. Berhati-hatilah dan ujilah kesempurnaan macam apa yang saudara kejar dan itu sangat berhubungan dengan sikap hati saudara yang tersembunyi itu, siapa saudara yang tidak terlihat itu. Alangkah anehnya jika ada orang yang biasanya malas namun ketika ada orang  lain menjadi begitu sangat rajin atau yang sebenarnya tidak suka berdoa dan belajar firman namun ketika ada orang-orang tertentu menjadi begitu sangat tekun dalam doa dan firman.  Kehidupan yang seperti apa ini?. Oleh karenanya manusia sempurna pada dasarnya adalah mereka yang hidupnya secara total terpusat kepada Allah.
Kesempurnaan Absolut : “Ketika kita bersama dengan Tuhan dan memandang-Nya muka dengan muka”
Yang terakhir. Kita mendapati satu ayat yang berkontradiski dengan penyataan Paulus sebelumnya di Filipi 3 : 15. Dalam ayat 15, ia mengatakan “kita yang sempurna” namun di ayat 12 ia mengatakan : “ia belum lagi sempurna”. Sebenarnya ayat ini tidak berkontradiksi karena ia memang membicarakan kesempurnaan dalam level yang lain, yaitu kesempurnaan abslout. Ia mengakui bahwa ia tidak sempurna dalam pengertian secara absolut tanpa dosa atau kesalahan sedikitpun. Mengapa?. Karena kesempurnaan jenis ini tidak mungkin dicapai dalam hidup saat ini, selama kita masih  berada dalam tubuh daging ini.
Namun ini tidak bermakna berdosa ataupun melakukan pelanggaran itu wajar. Tidak. Selama kita masih dalam daging, ada kalanya kita melakukan kesalahan karena kurangnya pengertian atau ketidaktahuan kita akan perkara rohani tertentu. Adalakalanya kita lalai dalam suatu hal dan kelalaian adalah dosa. Kekeliruan dalam melakukan suatu hal juga adalah dosa. Jadi kita semua masih jauh dari kesempurnaan jenis ini dan ia tidak dapat dicapai pada masa sekarang. Hanya di masa depan ketika tubuh kita ini telah diubahkan, kita akan menjadi sempurna seutuhnya.
Nah, oleh karena itu Paulus mengatakan aku belum sempurna dalam hal ini namun aku mengejarnya. Ia tidak menganggap kelalaian atau ketidakmengertian dalam perkara tertentu sebagai hal yang biasa, dan oleh karena itu dapat digunakan untuk membenarkan diri. Ia mengejarnya. Di satu sisi, ia pernah mengatakan bahwa ia lebih suka mati dan diam bersama-sama dengan Kristus. Mengapa?. Karen ia tahu, selama ia masih berada dalam tubuh dagingnya ini, ia tidak dapat berkomunikasi dengan Allah muka dengan muka dan secara sempurna mengenal Allah. Tapi ini bukan dengan bunuh diri namun dengan hidup dalam ketaatan dan kesetiaan hingga kematiannya datang. Jadi, saudara lihat, inilah mereka yang sempurna secara rohani, dimana kehidupan jasmani bahkan nyawa mereka sendiri tidak menguasai mereka. Mereka telah selesai dengan semua itu. Mereka tidak takut kepada kematian karena mereka mengejar kesempurnaan itu. Amin