Tuesday, 12 February 2013

Kebenaran dari Allah



“KEBENARAN”
By. Aprys Radja
Hari ini kita akan melihat satu lagi hal yang sangat penting ketika kita bicara mengenai kekudusan. Hal itu adalah kebenaran. Sebuah kata yang sering dikumandangkan oleh orang-orang di seluruh pelosok dunia. Semuanya berbicara mengenai kebenaran, mana yang benar dan mana yang salah. Itulah yang dimengerti oleh kebanyakan orang mengenai kebenaran, dengan ukuran mereka masing-masing, seolah-olah kebenaran itu sesuatu yang relatif. Kita juga melihat hal-hal yang terjadi di depan mata kita sendiri, bagaimana sesuatu yang benar dapat diputarbalikan menjadi sesuatu yang tidak relevan; dan yang jelas-jelas adalah ketidakbenaran di buat menjadi kebenaran atau dalam pendapat kebanyakan orang “mengandung kebenaran di dalamnya”. Apakah yang kita mengerti mengenai kebenaran?.
Mengasihi kebenaran : “mencintai teguran”
Banyak orang yang suka bicara mengenai kebenaran dalam kehidupan mereka sehari-hari. Namun adalah disayangkan karena tanpa mereka sadari (sebagian malah sadar bahwa itu adalah tidak benar namun tetap menutup mata) bahwa cara hidup mereka itu malah menyangkali kebenaran itu sendiri. Apakah kita adalah sesungguhnya orang yang mencintai kebenaran?. Salah satu ciri dari orang yang mencintai kebenaran adalah bahwa ia mencintai teguran. Amsal 12 : 1 mengatakan : “orang yang membenci teguran adalah dungu”. Apakah kita adalah orang yang bijaksana atau bodoh?. Atau bahkan mungkin kita berpikir kita adalah orang yang bijaksana?. Lihatlah reaksi kita ketika ada yang menunjukkan kesalahan kita. Apakah kita adalah orang yang bijaksana?. Mencintai kebenaran?. Yang ada malah kita menjadi marah!. Bukankah amarah manusia tidak mengerjakan sesuatu yang baik dihadapan Allah (Yak 1 : 20)?. Kita bahkan tidak ingin berbicara dengan orang itu, juga menghindari orang itu seakan-akan ia memiliki sejenis penyakit yang mudah menular kepada kita. Orang-orang tertentu bahkan bereaksi dengan cara yang lebih mengherankan yaitu dengan menyerang balik. Penolakan mereka akan teguran dapat dilakukan secara halus sehingga bagi orang tertentu itu tidaklah terlihat sebagai suatu penolakan namun dalam kondisi tertentu, penolakan itu dapat secara kasar dan arogan.
Kebenaranlah yang menyelamatkan
Sangat disayangkan, inilah reaksi kebanyakan orang, bahkan diantara mereka yang mendengung-dengungkan tentang kebenaran. Kita sering tidak menghargai saudara kita itu, yang menegur kita, walaupun sebenarnya ia mengambil resiko yang besar untuk jujur terhadap kita. Jika kita adalah seseorang yang dewasa maka seharusnya kita tidak perlu sampai diberitahukan tentang kesalahan kita oleh orang lain. Kita akan memeriksa diri kita sendiri dan mencari tahu apakah kita melakukan kesalahan yang sama ketika kita melihat seseorang melakukan kesalahan. Kita tidak akan menuding orang tersebut ataupun menuding orang lain akan kesalahan kita. Tidak peduli sekalipun teguran itu mungkin tidak sepenuhnya benar, seseorang yang rohani tidak akan mempersoalkan teguran itu. Sebaiknya kita memperhatikan dengan serius apa yang dikatakan oleh rasul Paulus mengenai hal ini. Dikatakan : “dengan rupa-rupa tipu daya jahat terhadap orang-orang yang harus binasa karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka (2 Tesalonika 2 : 10)”. Hanya kebenaran yang dapat menyelamatkan kita, dengan mencintainya. Bukankah ini yang dihasilkan oleh teguran?. Menolak teguran berarti menjerumuskan diri sendiri dalam bencana yang tidak seharusnya di alami.

Allah membenci ibadah tanpa kebenaran di dalamnya
Yang terjadi saat ini adalah banyak orang yang tidak lagi meresponi kebenaran. Masing-masing orang sudah sangat terbiasa dengan cara hidup yang mereka jalani selama ini. Mereka telah begitu nyaman dengan kondisi mereka. Yang terpenting bagi mereka adalah bahwa mereka tidak melakukan sesuatu yang jahat dan merugikan orang lain, dan mereka masih bergereja. Oke, itu adalah hal yang baik tetapi apakah kekristenan adalah hanya seperti itu?. Gereja telah terjerumus ke dalam masalah dan keadaan yang sama dengan bangsa Israel. Seperti peringatan yang disampaikan oleh Allah melalu hamba-Nya, nabi Amos. Dikatakan : “Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir (Amos 5 : 24)." Pada ayat-ayat sebelumnya, Allah berkata : Aku membenci perayaan dan perkumpulan raya mu, persembahan dan korban mu tidak mau Ku pandang dan nyanyian-nyanyian mu tidak mau Ku dengar. Dan kemudian Allah katakan : “yang ingin Ku lihat adalah “kebenaran seperti sungai yang mengalir”. Inilah yang menjadi masalah dengan bangsa Israel dan yang juga terjadi di gereja Tuhan saat ini : “banyak ibadah tapi sedikit kebenaran”. Tidak ada yang lebih religius dari bangsa Israel. Mereka sangat rajin  beribadah ke bait Allah. Mereka bahkan mengucapkan Shema 3x dalam sehari. Mereka juga tidak lalai dalam mempersembahkan korban. Namun satu hal ini yang hilang, yaitu kebenaran. Dan nampaknya inilah yang juga terjadi kepada gereja Tuhan. Gereja tidak kurang dalam hal kegiatan beribadah, melakukan ini dan itu. Tapi pertanyaannya, adakah kebenaran di dalamnya?. Bukan hanya itu malah kita sebagai orang Kristen begitu puas dengan kata “dibenarkan”!. Apakah hal ini menjadikan untuk hidup dalam kebenaran menjadi tidak penting?. Dan apa maksudnya hidup dalam kebenaran? Apa yang kita pahami mengenai “kebenaran”?

Kebenaran : “menghidupi firman Tuhan”
Mari kita perhatikan Yoh 17 : 17 – “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran”. Firman Tuhan adalah kebenaran. Dan bagaimana Paulus menjelaskan mengenai hal ini?. Dikatakan : “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (2 Tim 3 : 16). Inilah yang dikatakan : “firman mendidik orang di dalam kebenaran”. Ia melatih orang di dalam kebenaran. Apa maksudnya?.
Apakah dengan banyak berbicara mengenai “kebenaran”?. Dengan banyak bicara mengenai firman Tuhan?. Apakah seperti ini “orang kudus”?. Jika demikian halnya maka seharusnya iblis termasuk di dalamnya. Mengapa saya katakan demikian?. Karena iblis bahkan dapat berbicara mengenai firman Tuhan lebih baik daripada kebanyakan orang Kristen, bahkan ia dapat berbicara dengan disertai “kutipan’ yang sangat jitu. Dan bukankah karena hal semacam ini banyak orang Kristen yang dapat dikalahkannya?. Saya mengenal beberapa orang tertentu yang dapat menghafal setiap bagian firman dengan baik. Sayapun dulunya memiliki kemampuan semacam ini tapi sekarang daya ingat saya tidak sekuat dulu. Nah, apakah ini maksudnya?. Tidak, bukan demikian, namun dari apakah hidup mu itu berpadanan dengan firman.

Orang kudus adalah hamba kebenaran
Ada satu gambaran yang sangat baik, yang digunakan oleh Rasul Paulus untuk hal ini. Mari kita perhatikan Roma 6 : 18. Apa yang dikatakan di sana? : “Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran”. Inilah istilah yang digunakan oleh Rasul Paulus bagi orang Kristen : “hamba kebenaran”. Satu istilah yang secara tepat menggambarkan apa yang ingin saya sampaikan disini. Apa maksudnya menjadi orang kudus, menjadi seorang Kristen?. Yaitu menjadi hamba kebenaran. Apa maksudnya hamba kebenaran?. Pertanyaan ini memberikan petunjuk mengenai “ketaatan”. Apa yang kamu taati di dalam hidup mu; bahkan lebih jauh, apakah yang begitu menguasai hidup mu setiap hari?. Apakah kebenaran firman Tuhan?. Dan sebaiknya kita memperhatikan hal ini, sebagaimana yang Paulus katakan : “Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah (paralel dengan hamba kebenaran), kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal (Roma 6 : 22)”. Kesudahan dari hal ini adalah hidup kekal.
Saya katakan setiap orang Kristen yang tidak dikuasai oleh kebenaran dalam hidupnya, yang tidak menjadi budak dari kebenaran tidak akan sanggup hidup sebagai seorang Kristen. Mengapa? Yesus mengatakan : “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga”. Hanya mereka yang melayani Allah, menjadi hamba-Nya dan untuk itu rela dianiaya karena kebenaranlah yang empunya kerajaan-Nya. Sangat menyedihkan melihat keadaan saat ini. Dimana-mana kita tidak kurang dalam hal-hal orang yang berbicara firman Tuhan, bergereja namun sangat kekurangan orang dalam melakukan firman-Nya. Dunia saat ini penuh dengan orang-orang yang pandai dalam hal berbicara namun tidak pandai dalam melakukan apa yang dikatakan. Sangat menyedihkan melihat orang-orang yang berbicara mengenai  merendahkan diri namun hidup dengan cara ingin terlihat penting. Sangat menyedihkan melihat bagaimana seharusnya kita saling melayani bahkan dengan mulut kita bicara mengenai saling melayani namun kita berfungsi dengan sikap ingin diperhatikan. Apa yang sedang terjadi ini?. Kebenaran adalah sesuatu yang urgent di saat ini.

Setan hidup dengan kecenderungan kepada kebenaran namun tidak sejati
Saya katakan urgent. Mengapa?. Melihat dari keadaan saat ini. Dan lebih dari itu, sudah lupakah kita tentang apa yang dikatakan dalam Alkitab?. Bahwa setan memahami hal ini dengan lebih baik sehingga untuk menipu orang percaya maka ia dan pelayan-pelayannya menyamar dengan menampilkan dirinya dengan cara seperti ini, yaitu sebagai pelayan kebenaran. Di dalam 2 Kor 11 : 15, Paulus katakan : “jadi bukanlah suatu hal yang ganjil, jika pelayan-pelayannya menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran. Kesudahan mereka akan setimpal dengan perbuatan mereka”. Jadi, saudara lihat, untuk dapat memperdaya orang percaya maka setan dan pelayan-pelayannya harus hidup dengan kecenderungan kepada kebenaran. Saya katakan “kecenderungan”, artinya seperti memihak kepada kebenaran namun tidak sesungguhnya. Mengapa? Karena ia harus menampilkan dirinya sebagai pelayan kebenaran. Memandang hal ini, saya mengerti dengan baik mengapa Yesus begitu keras menegur orang-orang farisi. Mengapa? Inilah yang Yesus katakan : “demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan” (Matius 23 : 28). Ini hidup yang mengerikan, hidup yang hanya memiliki kecenderungan kepada kebenaran namun sejatinya bukanlah demikian dan bukankah ada begitu banyak dari antara kita orang Kristen yang hidupnya demikian?. Marilah kita jujur di sini agar kita diselamatkan Tuhan oleh kasih karunianya. Terimalah teguran yang dapat menyelamatkan kita.
Jadi, bukan hanya memiliki kecenderungan kepada kebenaran namun demikianlah jati diri kita adalah kebenaran. Kita hidup di dalamnya dan menjadi budak dari kebenaran. Seolah-olah untuk menegaskan hal ini, Paulus berkata : “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah (2 Kor 5 : 21)”. Terjemahan yang lebih baik bukanlah : “supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” namun “supaya dalam Dia kita menjadi kebenaran dari Allah”. Inilah pointnya : “menjadi kebenaran dari Allah”. Jadi siapakah orang Kristen itu? “kebenaran dari Allah”. Apa maksudnya hidup dalam kekudusan?. Hidup sebagai kebenaran dari Allah. Sangat menyentuh bukan?, melihat apa yang Allah kerjakan bagi kita?.

Menjadi Kristen berarti menjadi kebenaran dari Allah
Ini yang sejak awal ingin saya tunjukkan kepada saudara. Kebenaran bukanlah bicara mengenai apa yang kita katakan atau kita akui namun mengenai hidup kita. Hidup kita adalah kebenaran. Kita menjadi kebenaran dari Allah. Itu bermakna kemanapun dan dalam keadaan apapun, kita menjadi kebenaran dari Allah. Ini adalah hidup yang selesai dengan dosa dan yang senantisa diperbaharui oleh Allah. Dikatakan : Kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiran mu, dan mengenakan manusia baru (manusia yg dilahirkan kembali), yg telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya (Efesus 4 : 22-24).” Inilah artinya ciptaan baru. Inilah hidup baru, hidup yang berbeda sebagaimana kebenaran itu tak ada yang sama dengan ketidakbenaran. Perbedaannya jelas, tak dapat dirancukan dengan istilah dan pendapat-pendapat manusia.
Menjadi kebenaran dari Allah; itulah panggilan kita. Oleh karenanya, sangat menyedihkan jika melihat sebagai seorang kristen begitu banyaknya permintaan maaf yang keluar dari mulut kita. Bukan berarti permintaan maaf itu keliru, bukan begitu. Janganlah sombong, jika kita mengatakan sesuatu yang salah atau melakukan sesuatu yang salah, kita haruslah meminta maaf. Sudah selayaknya jika kita melakukan suatu kesalahan maka kita meminta maaf namun yang disayangkan adalah jika selama ini kita terus-menerus hidup dengan meminta maaf. Ini menunjukkan ada sesuatu yang salah. Kita adalah kebenaran dari Allah, bagaimana kita terus-menerus minta maaf. Permintaan maaf yang berketerusan berarti kita melakukan kesalahan yang berketerusan. Dalam keadaan semacam ini kemungkinannya hanya dua, bahwa keadaan anda itu dikarenakan Allah itu tidak cukup berkuasa mengubahkan anda ataukah anda yang sebenarnya tidak serius untuk hidup di dalam kebenaran. Kemungkinan yang pertama itu tidaklah mungkin maka kemungkinan ke dualah yang menjadikan hal tersebut.

Allah menciptakan langit dan bumi yang baru dengan kebenaran menetap di dalamnya
Saya sangat mengharapkan kita mau memperhatikan hal ini dengan serius. Mengapa? Karena Allah begitu sangat memperhatikan kebenaran. Begitu cintanya Allah kepada kebenaran sehingga ketika Dia menciptakan langit dan bumi yang baru, kebenaran akan berdiam di sana. Rasul Petrus berkata : ”Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat. Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap. Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup yaitu kamu yang menantikan dan mempercepat kedatangan hari Allah. Pada hari itu langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya. Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran. Sebab itu, saudara-saudaraku yang kekasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia” (2 Petrus 3 : 9-14). Amin

Hidup Kudus



 Ketetapan Hati Untuk Setia Berpegang Pada Ketetapan Dan Perintah-Nya

By. Aprys Radja

Hari ini kita akan melihat lagi satu bagian penting dalam firman Tuhan, dalam kaitannya dengan hidup yang kudus. Satu hal, yang oleh karena doktrin yang diturunkan kepada kita selama ini, menjadikan hal ini menjadi sedemikian kabur dan sebagai akibatnya kita memiliki banyak masalah dalam hidup rohani kita. Saya ingin menyampaikan satu hal yang harus ada di pihak kita dalam hubungannya dengan sikap kita terhadap Tuhan.
Saudara tahu bahwa hidup yang kudus itu sangatlah berkaitan dengan bagaimana kita meresponi Allah, dengan bagaimana kita meresponi firman-Nya, dengan bagaimana sikap hati kita terhadap sesama, dan juga dengan bagaimana sikap hati kita terhadap hidup kita sendiri dan cara kita menjalaninya. Apa  yang saya maksudkan di sini?. Saudara tahu bahwa ada begitu banyaknya masalah dalam hidup rohani kita dikarenakan kita berpikir bahwa kehidupan rohani kita itu sepenuhnya tergantung kepada Allah tanpa ada bagian yang harus ada di pihak kita. Saudara lihat. Pemikiran seperti ini kelihatannya benar namun sangatlah berbahaya. Mungkin ada dari antara kita yang berkata  : oh..tidak!. Namun perhatikanlah bagaimana caranya kita berfungsi. Dalam kenyataannya, dalam tindakan kita, kita melemparkan semuanya kepada Allah sehingga bagi kebanyakkan kita, apa yang terjadi itu adalah karena Allah, apapun tanpa adanya tanggung jawab di pihak kita. Sekalipun kita berkata “tidak” namun demikianlah cara kita dalam memperlakukan Allah selama ini dan itu terlihat dari tindakan kita ataupun dari apa yang tidak kita lakukan.
Sebagai contohnya : “saudara berdoa agar Tuhan mengubahkan diri saudara menjadi pribadi yang lemah-lembut”. Kemudian apa yang saudara lakukan?. Saudara menunggu sajakah di situ?. Dan ketika masalah datang, daripada bergantung pada kekuatan Tuhan untuk bersabar dan bereaksi dengan cara yang baik, kita lebih cenderung mengikuti keinginan kita untuk marah, mengikuti kebiasaan kita, menurut bagaimana biasanya kita bereaksi. Jadi, apa artinya saudara berdoa : “Tuhan jadikanlah saya orang yang lemah-lembut”?. Atau, biar kita lihat hal ini!. Kita berdoa, Tuhan jadikanlah saya pribadi yang menyenangkan-Mu, pribadi yang kudus. Dan kemudian, apa yang kita lakukan? Kita menunggu saja di situ, berharap sesuatu akan terjadi dan kita terus melanjutkan hidup kita sebagaimana biasa kita menjalaninya, sesuai dengan cara-cara yang selama ini kita tempuh, berdasarkan kebiasaaan-kebiasaaan yang menyenangkan untuk kita lakukan. Apa yang sedang kita lakukan ini, kebingungan macam apa ini!. Kepedulian saya pada hari ini adalah untuk membereskan sikap semacam ini. Mengapa?. Karena selama ini kita telah begitu salah dalam memperlakukan Tuhan, sejak dari awal, makanya kita memiliki begitu banyak masalah rohani. Semoga pesan hari ini dapat memberikan saudara penjelasan yang baik dalam memandang kehidupan rohani kita, bagaimana kita berhubungan dengan Tuhan.
Sebelumnya, mari kita perhatikan nats firman Tuhan bagi kita di sini, yaitu Ulangan 26 : 16-19 dan  28 : 9. Mari kita melihat salah satunya yaitu Ulangan 26 : 16-19, dikatakan : “Pada hari ini TUHAN, Allahmu, memerintahkan engkau melakukan ketetapan dan peraturan ini; lakukanlah semuanya itu dengan setia, dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu. Engkau telah menerima janji dari pada TUHAN pada hari ini, bahwa Ia akan menjadi Allahmu, dan engkaupun akan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada ketetapan, perintah serta peraturan-Nya, dan mendengarkan suara-Nya. Dan TUHAN telah menerima janji dari padamu pada hari ini, bahwa engkau akan menjadi umat kesayangan-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepadamu, dan bahwa engkau akan berpegang pada segala perintah-Nya, dan Iapun akan mengangkat engkau di atas segala bangsa yang telah dijadikan-Nya, untuk menjadi terpuji, ternama dan terhormat. Maka engkau akan menjadi umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu, seperti yang dijanjikan-Nya”.

Kitab Ulangan merupakan kitab dimana Musa meriwayatkan kembali (mengingatkan kembali) Israel akan apa yang telah terjadi atas mereka dalam hal hubungan mereka dengan Tuhan sejak keluarnya mereka dari Mesir dan juga meriwayatkan kembali perintah-perintah dan ketetapan-ketetapan Tuhan atas mereka. Ia merupakan perkataan-perkataan dari Musa kepada seluruh bangsa itu diseberang sungai Yordan, dimana ia tidak di ijinkan Yahweh memasuki tanah yang dijanjikan Allah itu. Meriwayatkannya atau mengisahkannya kembali dengan tujuan untuk mengingatkan dan memperingatkan Israel akan sikap mereka terhadap Yahweh, Allah mereka dan bagaimana Allah menangani mereka. Dan setelah ia meriwayatkan semuanya itu, ia mengatakan nats yang kita baca ini.
Masa lalu adalah sebuah pelajaran dan peringatan.
Ada satu pelajaran yang penting dari hal ini. Masa lalu bukanlah masa yang harus dilupakan begitu saja. Masa lalu tidak boleh menghalangi masa depan kita namun bukan dengan melupakannya begitu saja. Kita memang harus selesai dengan masa lalu dalam artian janganlah membiarkan masa lalu saudara mengendalikan masa depan anda, sebab jika demikian maka saudara sedang merusakan diri sendiri. Saudara ku, janganlah membiarkan ingatan akan masa lalu saudara memanipulasi anda. Jadikanlah masa lalu sebagai satu pelajaran dan peringatan bagi kita dan menjadikan kita orang yang lebih bersungguh-sungguh dan rendah hati. Paulus pernah berkata demikian di 1 Korintus 15 : 8-10 : “Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya. Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah. Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku”. Perhatikan ini!. Setelah menerima kasih karunia dari Tuhan, apa yang pernah ia lakukan terhadap jemaat pada masa lalu (dimana ia adalah seseorang yang pernah menganiaya jemaat) menjadikannya seseorang yang rendah hati dan seseorang yang begitu menghargai kasih karunia yang diberikan kepadanya; dan karena ia begitu menghargai kasih karunia yang diberikan kepadanya, ia bekerja dengan giat di dalam kasih karunia itu bagi Tuhan. Saudaraku, saudara harus membuktikan bahwa kasih karunia yang Allah berikan kepada saudara itu tidaklah sia-sia, dengan menjadi orang yang berkerja keras di dalamnya.

Hubungan kita dengan Allah : “sebuah perjanjian”.
Dalam nats yang kita baca di Kitab Ulangan, Israel menjadi umat kudus bagi Yahweh, Allah mereka berdasarkan perjanjian di antara Allah Yahweh dengan mereka dan mereka dengan Allah Yahweh. Perjanjian itu adalah janji bahwa Ia akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Nya yang kudus bagi-Nya. Dalam perjanjian ini, Israel haruslah hidup menurut jalan yang ditunjukkan Yahweh, berpegang pada ketetapan Yahweh serta mendengar suara-Nya. Hal ini mengingatkan kita akan apa yang terjadi pada saat baptisan, bukan? Di baptisan, dengan hati nurani yang baik kita berikrar kepada Allah. Dengan begitulah saudara dimasukan menjadi bagian dari tubuh Kristus, Gereja-Nya. Jadi, menjadi umat-Nya berkaitan dengan janji kita kepada-Nya.
Janji mengandung komitmen, sebuah ketetapan hati.
Nah, mari kita lihat dengan baik hal. Apa yang terkandung di dalam janji itu? “Janji” itu menunjukkan komitmen kita kepada-Nya, ketetapan hati kita kepada Allah, kepada perintah-Nya. Inilah yang harus terjadi pada awal kehidupan kekeristenan kita. Sebagai gambarannya yaitu apa yang terjadi di baptisan. Ia merupakan pintu gerbang awal kehidupan Kristen dan di baptisan kita mengikrarkan ikrar kita, janji kita kepada-Nya. Ini menunjukkan komitmen kita kepada-Nya. Dengan demikian, adalah satu hal yang jelas bahwa kita diterima menjadi umat-Nya berdasarkan ikrar atau komitmen kita kepada-Nya dan Allah pada akhirnya akan memegang janji saudara itu. Berdasarkan janji itu, Ia akan berhubungan dengan saudara dan akan menghakimi saudara. Entahkah saudara berjanji kepada-Nya dengan tulus hati ataupun tidak, dengan sungguh-sungguh atau tidak, Allah akan menghakimi saudara berdasarkan perkataan saudara itu. Inilah yang terjadi dengan Israel jika saudara membaca kisah mengenai bangsa ini. Mungkin saudara berkata : kalau begitu saya tidak ingin mengikat perjanjian dengan-Nya; maka itu berarti saudara juga menolak atau tidak bersedia untuk menjadi umat-Nya, dan dengan demikian menjauhkan diri saudara dari kasih karunia-Nya.
Nah, perhatikan ini : “janji itu mengandung komitmen di dalamnya, komitmen untuk melakukannya”. Di dalamnya terdapat ketetapan hati, kebulatan hati untuk setia kepada Allah. Banyaknya masalah dalam hidup Kekristenan kita menunjukkan bahwa kita memiliki masalah dalam komitmen kita. Kita harus mengerti bahwa berdasarkan firman Allah, sangatlah tidak mungkin untuk menjalani hidup sebagai seorang Kristen, umat kudus kepunyaan Tuhan kecuali jika kita memiliki komitmen yang total sedari awalnya. Ini adalah fakta nyata kehidupan setiap hari, bukan persoalan teori. Ia adalah persoalan tindakan, bukan persoalan mengumpulkan sebanyak mungkin pengetahuan Alkitab untuk otak kita. Di saat saudara menjalani hidup sebagai seorang Kristen maka saudara akan tahu bahwa ini adalah sesuatu yang mustahil. Banyak masalah dalam hidup rohani kita ini dikarenakan kebanyakan kita memiliki masalah dengan komitmen kita. Ini bukan hanya masalah di kalangan jemaat awam, namun bahkan orang yang telah memberi diri mereka dalam melayani Tuhan, sepenuh waktu mereka. Saudara bisa saja telah menyerahkan segala sesuatu kepada Tuhan (bukan hanya dalam nama namun nyata dalam tindakan, bukan hanya sekedar keinginan tanpa tindakan) tetapi saudara tetap mengalami bahwa hidup Kristen saudara sepertinya sangat lemah, tanpa kuasa dan sukacita. Biar saudara menyadari hal ini, mempertahankan sesuatu bagi diri sendiri meskipun sedikit akan membinasakan komitmen saudara. Inilah yang sering saya ingatkan .
Sangat menyedihkan melihat bagaimana orang-orang di zaman ini termasuk orang Kristen sendiri tidak begitu mempedulikan bagaimana hubungannya dengan Allah, bahkan ada dari begitu banyak orang Kristen yang setelah sekian lama menjadi Kristen tidak memahami apa itu hubungan dengan Allah, seperti apa itu dan ini adalah suatu keadaan yang sangat menyedihkan. Orang-orang di zaman ini lebih peduli dalam hal memperoleh penghasilan sebanyak mungkin sekalipun itu berarti mereka harus kehilangan waktu beribadah mereka kepada Tuhan, sekalipun itu akan sangat menyibukan mereka dan menguras perhatian mereka dari Tuhan. Mereka lebih begitu peduli dalam persoalan bagaimana membeli rumah, memiliki mobil, membangun rumah dengan lebih megah, memperoleh pedapatan lebih besar lagi dan memperluas fasilitas yang telah mereka punyai. Dan untuk siapa semuanya ini? “untuk Tuhan? Tidak, untuk diri sendiri”. Untuk Tuhan hanya dalam kata. Inilah masalah yang menjalar bagaikan kanker di dalam tubuh Kristus, dalam gereja, yang akan membinasakan tubuh ini, dimana orang-orang Kristen tidak memiliki hati yang utuh bagi Tuhan, hati mereka tidak ditetapkan bagi-Nya. Mereka adalah orang-orang yang sangat lemah dalam ketetapan hati mereka.
Nah, pikirkan ini. Apa artinya Ia, Yahweh menjadi Allah kita?. Hal itu berarti kita adalah umat-Nya, kepunyaan-Nya. Apa maksudnya kepunyaan-Nya?. “hamba-hamba-Nya”. Hal itu berarti Ia adalah Tuan kita, Penguasa kita.  Nah, pikirkan hal ini dengan mendalam!. Apa yang akan terjadi dengan semua hal yang berkaitan dengan kita dalam hal Yahweh menjadi Tuan kita?. Apakah mungkin kita hidup dengan Ia sebagai Allah kita tanpa ketetapan hati untuk setia dan melakukan ketetapan-Nya?. Jangan berpikir karena kita hidup dalam masa PB berarti tanpa Hukum. Tidak. Allah adalah Raja dan itu bermakna adanya pemerintahan. Dan bagaimana Ia menjalankan pemerintahan-Nya?. Pemerintahan itu tersendiri menyiratkan akan adanya hukum. Jangan mencoba membuat Ia menjadi Raja tanpa otoritas di dalam hidup anda. Anda hanya sedang membodohi diri sendiri.
Bagaimana Allah berhubungan dengan kita bergantung bagaimana kita meresponi-Nya.
Biar kita memahami hal ini dengan mendalam!. Alasan mengapa hanya sedikit sekali orang-orang yang mengalami kuasa Allah adalah karena hanya sedikit orang yang berketetapan hati, yang berkomitmen. Pahami ini. Kita tidak dapat mengikuti ajaran Tuhan tanpa komitmen dan tanpa kasih karunia. Sekalipun itu adalah hal yang mustahil namun jika saudara berketetapan hati untuk menghidupinya maka saudara akan mengalami kuasa-Nya. Kita tidak sedang bicara mengenai berjuang dengan kekuatan sendiri. Saudara akan gagal. Namun kita sedang berbicara mengenai berjuang dengan bersandar pada kekuatan-Nya yang memampukan kita. Kudus berarti berbeda, sama halnya dengan menjadi terang. Menjadi terang berarti berbeda. Dan bagaimana saudara dapat menjadi terang? Jika ada kuasa. Saudara hanya dapat menjadi terang melalui kuasa Allah yang mampu mengubahkan itu. Nah, saudara tidak akan di ubah kecuali saudara mau berketetapan hati, mau berkomitmen. Perubahan memerlukan kuasa. Dan jika saudara mau menetapkan hati saudara, berkomitmen untuk membiarkan Dia mengubah saudara maka ia akan mengubahkan saudara. Jika saudara berketetapan hati untuk setia berpegang pada ketetapan dan perintah-Nya maka Ia akan memampukan saudara dengan kuasa-Nya.
Ketetapan hati diekspresikan lewat disiplin hidup.
Perintah-Nya adalah agar kita hidup kudus maka itu berarti saudara harus membulatkan tekad saudara untuk tidak berdosa. Matius 5 : 29-30 menunjukkan dengan baik apa itu. Kebulatan hati atau hati yang berketetapan di sini, ekspresinya adalah suatu tindakan tegas tanpa kompromi, suatu disiplin terhadap diri sendiri. Ini bukan bagian Allah tapi bagian kita!. Ada bagiannya untuk Allah mendisplinkan kita yaitu jika kita tidak mendisiplinkan hidup rohani kita. Kitalah yang harus mendisiplinkan diri kita. Banyaknya masalah rohani yang kita alami karena kita melepaskan tanggung jawab ini dari pihak kita. Kita mengharapkan hidup yang penuh kuasa, yang berkemenangan namun tanpa mau mendisiplinkan diri kita dan kemudian kita berkata : “Tuhan mengapa saya terus kalah, mengapa hidup saya tanpa kuasa?”. Kuasa Allah tersedia bagi mereka yang benar-benar serius dalam hidup rohani ini, dengan kebenaran dan itu dibuktikan dengan hidup yang berdisiplin. Maksud saya, bukan saudara berbuat dosa dan kemudian saudara mendisplinkan diri sendiri. Bukan itu. Itu hanya akan memperburuk diri saudara, karena ketika saudara berbuat dosa, mata saudara tidak akan jernih dan benar dalam menangani diri saudara sendiri. Maksud saya adalah mendisplinkan diri saudara untuk tidak berdosa. Inilah teladan dari Rasul Paulus. Ia bertekad untuk tidak ditolak pada akhirnya dan oleh karena itu, ia membulatkan hatinya, menetapkan hatinya untuk mengadakan disiplin atas dirinya, untuk melatih hidupnya (1 Kor 9 : 27).
Sekali lagi, tanpa adanya hati yang berketetapan atau kebulatan hati di sana maka tidak ada yang namanya komitmen. Saudara tidak akan dapat mengalami Allah jika saudara masih berpegang pada dosa. Dosa pada dasarnya adalah ketidaksetiaan atau pelanggaran terhadap kehendak atau ketetapan Allah. Sekalipun itu dosa yang menurut kita kecil, ia akan menghambat persekutuan kita dengan Allah. Dosa terjadi karena ketiadaan hati yang bulat atau yang berketetapan untuk setia kepada kebenaran Allah. Inilah yang terjadi dengan Israel. Mereka kelihatannya berkomitmen dari perkataan mereka namun mereka sebenarnya tidaklah sungguh-sungguh berkomitmen kepada Yahweh.
Inilah prinsip penting yang dapat kita lihat dari perikop yang kita baca disini. Di dalam perikop yang kita baca, Allah mengungkapkan ketetapan-Nya menurut respon kita kepada-Nya. Dengan memandang Alkitab maka saudara akan mendapati sebagai contoh-Nya yaitu bahwa Allah, apakah Ia memberkati kita atau menghakimi kita, apakah Ia akan bermurah hati atau keras kepada kita bergantung pada bagaimana kita menanggapi-Nya, meresponi-Nya. Inilah yang terlihat dari Israel. Untuk hal inilah, orang yang berbeda mengalami Allah secara berbeda. Cara bagaimana saudara akan mengalami Dia bergantung kepada cara saudara meresponi-Nya. Respon apapun atau kurangnya respon kepada Dia memberikan petunjuk mengenai kualitas hati kita. Namun jika saudara mau serius dengan Allah dan itu juga bermakna saudara serius terhadap kebenaran, maka saudara akan mendapati bahwa Allah juga begitu serius terhadap saudara.
Tanggung jawab untuk menetapkan atau membulatkan hati kepada Allah ada di pihak kita. Kita tidak boleh menyerahkan tanggung jawab ini kepada Allah. Cara bagaimana Allah akan menanggapi kita pada akhirnya bergantung pada kita sendiri (Maz 18 : 24-27). Orang yang bengkok hatinya akan mendapati sangat sulit berurusan dengan Allah. Apa maksudnya bengkok hati?. “Orang yang meresponi Allah secara berbelat-belit”. Jika kita bermain-main dengan Allah, saudara akan mendapati bahwa Ia  juga akan bermain-main dengan saudara dan saya pastikan bahwa saudaralah yang akan kalah dalam permainan semacam ini. Allah akan menanggapi kita berdasarkan kelakuan kita. Jadi, jika saudara mendapati masalah-masalah dalam hidup rohani saudara, maka lihatlah bagaimana cara saudara meresponi kebenaran selama ini. Dalam nats kita ini, Allah sebenarnya tidak ingin mengutuk Israel namun jika mereka hidup dalam dosa dan kejahatan, respon Allah adalah melalui penghakiman. Pilihan adalah suatu ketetapan hati, bukan permainan. Dalam nats yang kita baca di Ulangan, Israel dihadapkan secara langsung dengan pilihan di antara kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Firman Allah bukan omomg kosong. Allah mengatakan ini adalah persoalan memilih kehidupan atau kematian dan kita harus menanggapinya. Ini bukan ungkapan dari akal budi atau pilihan di tahap mental. Kita bisa saja memilih namun gagal karena tanpa kuasa. Masalah ini bukan persoalan bisa memilih namun ketetapan hati atau kebulatan hati untuk menghidupi-Nya dengan kekuatan Allah. AMIN






Seri pengenalan akan Allah (Bagian 3)



Makna Merendahkan Diri
By. Aprys Radja

Hari ini kita akan melanjutkan pembahasan kita mengenai seri kita, yaitu pengenalan akan Allah. Bagi saya, tidak ada hal dalam hidup kita ini yang begitu penting selain untuk mengenal Allah, untuk hidup dalam suatu hubungan yang sejati dengan Dia. Kerinduan saya adalah bahwa kita masing-masing mau menjadikan hal ini sebagai gol dalam hidup kita dan mengejar-Nya sepanjang hidup kita ini.

Minggu lalu kita telah melihat bahwa mereka yang rendah hatilah yang akan mengalami Tuhan dan akan mengenal-Nya. Merekalah yang akan mengalami Allah secara mendalam dan secara pribadi karena Allah berkenan ditemukan oleh orang-orang yang demikian. Seperti yang dikatakan nats firman Tuhan : “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati”, seperti yang kita lihat minggu lalu. Atau apakah yang dikatakan Allah melalui nabi-Nya yaitu Yesaya? : “sebab beginilah firman Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya; Aku bersemayam di tempat tinggi dan ditempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk (Yesaya 57 : 15).

Mengalami Allah dan kualitas hidup.
Ya, masing-masing kita telah mengalami kebaikan Tuhan dalam caranya masing-masing tetapi apakah kita mengalami-Nya secara pribadi, dalam hubungan yang mendalam dengan Dia, dimana Ia menyatakan diri-Nya kepada saya dan saudara sehingga terjadi perubahan dalam hidup kita?. Lalu mengapa saya dan saudara tidak mengalami-Nya dengan cara yang demikian?. Apa yang menjadi masalah-Nya?. Saya sering mengatakan dalam banyak kesempatan bahwa saya meragukan perkataan orang-orang saat ini, yang mengatakan bahwa mereka mengalami Allah secara pribadi namun yang tidak menunjukkan suatu kualitas rohani dalam hidupnya. Maafkan saya jika mengatakan demikian.

Apa masalahnya telah lihat kita mingu lalu!.
Saudara tahu dalam banyak kesempatan di dalam Alkitab, ketika Tuhan menyatakan diri-Nya kepada mereka, mereka bukan berada dalam kondisi tertentu. Mereka tidak dalam posisi doa atau penyembahan. Seringkali Tuhan datang menyampaikan firman-Nya kepada mereka ketika mereka dalam perjalanan, ada yang sedang menggembalakan dombanya dan lain sebagainya. Adakah sesuatu yang dapat saudara perhatikan di sini?.

Iya, inilah yang ingin disampaikan kepada kita melalui fenomena ini, yaitu apakah kita adalah orang-orang yang kepadanya Allah dapat berkomunikasi, dapat Allah jumpai dan mengalami Dia adalah “mengenai siapa saudara”. Ini bicara tentang jati diri saudara. Saudara bisa saja adalah orang yang rajin beribadah dan melakukan hal-hal agamawi lainnya namun saudara tidak akan menemukan-Nya. Saudara dapat saja membungkuk sedemikian rendah secara fisik namun apakah saudara adalah orang rendah hatinya?. Saudara dapat saja mengatakan hal-hal yang rohani namun apakah saudara adalah orang yang rohani?. Jadi apakah saudara adalah orang yang rendah hati?. Ini yang saya ingin tunjukkan kepada saudara, yaitu bahwa apakah kita dapat bertemu dengan Tuhan atau tidak, dan memiliki hubungan yang hidup dengan Dia atau tidak, sangatlah berkaitan dengan sikap hati saudara.

Merendahkan diri terhadap Allah terlihat dalam hubungan dengan sesama.
Ketika kita bicara mengenai merendahkan diri, hal ini bukan hanya berkaitan dengan sikap hati kita terhadap Tuhan namun juga terhadap sesama. Mengapa? Karena seperti apa hubungan kita dengan Tuhan akan tertunjuk dalam sikap kita terhadap sesama. Perhatikan saja apa yang dikatakan kepada kita oleh Rasul Yakobus (Yakobus 4 : 6 dan 10) dan juga Rasul Petrus (1 Petrus 5 : 5-6). Perhatikanlah; Allah menentang orang yang congkak namun mengasihani orang yang rendah hati. Bagaimana mungkin kita dapat menghadap Tuhan dengan hati yang congkak, yang tidak saling menundukkan diri satu terhadap yang lain dan berharap dapat bertemu dengan Dia?. Rasul Petrus katakan : “dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain”.

Teladan Yesus.
Ke dua rasul ini menyatakan pengajaran Yesus dengan baik.
Saudara ingat pada suatu kejadian, para murid mempertengkarkan siapa yang terbesar diantara mereka (Markus 9 : 34) dan kemudian apa yang Yesus katakan? : “Jika seseorang ingin menjadi terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya”. Sekali lagi hal ini terjadi di Markus 10, dan apa yang Yesus katakan : “tidaklah demikian diantara kamu. Barangsiapa ingin menjadi terbesar diantara kamu, hendaklah ia menjadi pelayan mu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka diantara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semua. Dan Ia melanjutkan : karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Markus 10 : 43-45).

Merendahkan diri : “ berpalinglah dari keinginan untuk menjadi terbesar di dunia”.
Dengan kata lain, cara untuk mengalami Allah dan untuk dapat masuk ke dalam kerajaan Allah adalah berpalinglah dari keinginan menjadi yang terbesar. Makanya Yesus katakan jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak dapat masuk ke dalam kerajaan Allah. Bertobat artinya berbalik. Dari apa? Menjadi anak kecil berarti menjadi bukan siapa-siapa. Jadi, berbalik dari apa? Dari menjadi terbesar. Tapi inilah yang terjadi kepada murid-murid dan juga gereja hari-hari ini. Bayangkan betapa sedihnya hati Yesus ketika melihat gereja-Nya hari ini tidak hidup menurut teladan-Nya. Inilah mengapa Ia menegur mereka di Lukas 6 : 46 – “mengapa kamu berseru kepada-Ku : Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?”.  Inilah pikiran orang Kristen saat ini dan itu sangat mengerikan. Menjadi Kristen berarti saya harus menjadi besar di dunia ini, menjadi kepala dan bukan ekor. Dan bagaimana itu maksudnya?.

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya : kalian ini sedang menuju ke arah yang salah. Yang kalian pikirkan adalah kemuliaan duniawi sedangkan aku sedang menuju kematian (salib), menuju kehinaan duniawi. Makanya salib selalu menjadi batu sandungan bagi banyak orang karena orang-orang tidak bisa memahami  bahwa Yesus datang bukan untuk memuliakan diri-Nya namun untuk merendahkan diri-Nya karena satu-satunya jalan supaya keselamatan itu bisa digenapi adalah dengan cara merendahkan diri bahkan sampai kepada kematian. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama di bumi ini. Mengapa? Baca saja Filipi 2 : 5-8. Mengapa? Karena Ia merendahkan diri-Nya bahkan sampai kepada kematian. Inilah caranya ke atas yaitu dengan turun makin ke bawah, makin hina, menjadi hamba bagi semuanya. Tapi banyak hamba Tuhan mencari posisi yang menyenangkan dan tinggi di dunia ini. Semuanya ingin terpandang dan mereka telah bergerak ke arah yang berlawanan dengan Yesus.

Bahkan sekali lagi ia memalukan mereka pada suatu kesempatan. Yesus bertanya kepada mereka “siapakah yang lebih besar, yang duduk makan atau yang melayani?. Bukankah dia yang duduk makan?. Tetapi Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan (Lukas 22 : 27); atau apakah yang Ia sampaikan di Yoh 13 : 12-14 : “kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan kata mu itu tepat, sebab memanglah Aku Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kaki mu, Aku yang adalah Tuhan dan Guru mu maka kamupun teladanilah itu”. Namun, apakah gereja berfungsi dengan cara yang sama?.
Bagaimana caranya kita menilai kesuksesan?.
Pikiran gereja tentang sukses adalah gedung yang besar dan jemaat yang banyak. Namun Yesus mengukur kesuksesannya lewat ukuran seberapa paham para murid akan jalur kerendahan hati; jalur merendahkan diri. Dan saya ingin melangkah di jalur dan jalan yang sama, yang di lalui oleh Yesus ini. Bagaimana dengan kita?. Sebaiknya kita tidak mengklaim perlakuan khusus bagi diri kita. Inilah maksudnya menjadi anak kecil yaitu anda harus bersedia untuk tidak memiliki status apapun, menjadi bukan siapa-siapa. Bukankah ini artinya menjadi hamba?.

Merendahkan diri bukan cara fungsi dunia ini!.
Nah, satu hal yang akan dengan cepat dapat saudara perhatikan yaitu bahwa ini bukanlah cara fungsi mayoritas tetapi iman kepada Allah. Marilah kita perhatikan, apakah pandangan mayoritas di dunia ini?. Apakah ini cara fungsi mayoritas manusia pada umumnya?. Tidak, semua manusia ingin  naik semakin tinggi namun Yesus ingin kita turun makin rendah. Inilah masalahnya. Bagaimana dengan gereja saat ini?. Sebenarnya apakah kita berfungsi dengan cara ini atau tidak, lebih menunjukkan seperti apa iman kita, apakah kita percaya kepada Allah atau tidak. Jadi, kita tidak berfungsi berdasarkan pandangan mayoritas ataupun pandangan sendiri dalam hidup rohani ini  tapi iman terhadap firman Tuhan. Karena ini bertentangan dengan suara mayoritas, dengan cara fungsi manusia pada umumnya, sebagai akibatnya, saudara akan dipandangg aneh dan di tolak. Merendahkan diri saat ini adalah sulit; bagaimana dengan diri kita?. Siapakah yang akan membela kita?. Percayalah, Tuhan adalah pembela kita. Saudara akan melihat bagaimana Dia akan menjadi Allah  bagi saudara. Amin